Perkuat Ketahanan Medis di Pelosok Papua, TEP UNDIP Latih Kader Kesehatan

- Kontributor

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

UNDIP, Yaffi Kabupaten Keerom (14/10) – tribuncakranews.com

Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) melalui Tim 6 Edu-Health Yaffi memperkuat kapasitas kader kesehatan melalui Pelatihan Peningkatan Peran Kader dalam Komunikasi dan Edukasi Kesehatan Berbasis Masyarakat yang digelar di SMP Negeri 2 Web, Distrik Yaffi, Kabupaten Keerom, Papua, Kamis (10/9). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan edukasi kesehatan di wilayah dengan akses pelayanan yang terbatas.

Kegiatan ini berangkat dari tantangan pelayanan kesehatan di wilayah Yaffi. Jarak antar kampung, kondisi jalan, cuaca, dan keterbatasan komunikasi membuat layanan kesehatan belum dapat menjangkau masyarakat dengan cepat. Dalam kondisi tersebut, kader yang tinggal dan berinteraksi langsung dengan warga memiliki peran penting untuk memastikan informasi kesehatan tetap tersampaikan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

*Peran Strategis TEP UNDIP Latih Kader Kesehatan di Wilayah Terpencil*

Pelatihan yang diikuti 30 peserta ini terdiri dari kepala kampung, kepala Puskesmas, kader malaria, dan kader posyandu. Nella Tri, praktisi bidang administrasi kesehatan, hadir sebagai pemateri dengan fokus pada penguatan peran kader dalam edukasi kesehatan ibu dan anak (KIA), pelaksanaan posyandu, dan pencegahan malaria.

Pelatihan menekankan bahwa kader bukan pengganti tenaga kesehatan. Kader berperan sebagai jembatan antara masyarakat dengan puskesmas dan tenaga kesehatan, terutama dalam mengenali kondisi yang perlu mendapat perhatian, menyampaikan pesan kesehatan yang tepat, serta mendorong warga memperoleh pemeriksaan dan penanganan dari tenaga profesional.

Kedekatan kader dengan masyarakat menjadi modal penting karena mereka berasal dari komunitas setempat, sehingga relatif lebih mudah ditemui, didengar, dan dipercaya. Namun, pelaksanaan tugas tersebut masih menghadapi hambatan, terutama di kampung-kampung yang sulit dijangkau. “Kader malaria mengalami kesulitan dalam menjangkau masyarakat karena kondisi akses yang sulit serta kendala komunikasi. Hal tersebut menjadi salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan tugas kader,” ujar Jakson, selaku perwakilan kader malaria dari Kampung Jifanggri.

Menurut Jakson, peningkatan pengetahuan kader perlu diikuti dengan kemampuan komunikasi yang baik agar edukasi kesehatan dapat diterima masyarakat. “Pelatihan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kepercayaan diri kader dalam memberikan edukasi. Semakin baik pemahaman kader mengenai malaria, semakin baik pula kemampuan kader dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat,” ungkapnya.

*Media Edukasi dan Sinergi untuk Ketahanan Layanan Kesehatan*

Penguatan kapasitas kader tidak hanya diarahkan pada penambahan pengetahuan, tetapi juga pada kemampuan menyampaikan informasi secara sederhana, menarik, dan sesuai dengan kondisi masyarakat. Pelatihan memperkenalkan penggunaan modul, poster, flip card, dan flash card sebagai alat bantu edukasi yang dapat digunakan kembali dalam penyuluhan, diskusi masyarakat, maupun pendampingan di tingkat kampung.

Baca Juga:  Modus Estafet Terbongkar! 928 Gram Sabu Gagal Terbang dari Kualanamu ke Jakarta 

Pada materi mengenai malaria, peserta memperkuat pemahaman mengenai kewaspadaan terhadap gejala, pencegahan gigitan nyamuk, pemeliharaan lingkungan, dan pentingnya mengarahkan masyarakat untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Kader juga diingatkan agar tidak mendorong pengobatan mandiri hanya berdasarkan gejala. Dengan demikian, kader dapat mendukung deteksi awal sekaligus membantu masyarakat mengakses layanan yang tepat.

Tantangan serupa juga dirasakan dari sisi pelayanan kesehatan. Kepala Puskesmas Yaffi, Betty, menyoroti jarak sejumlah kampung dari fasilitas kesehatan serta pengaruh kondisi cuaca terhadap mobilitas petugas. “Kampung yang berada jauh dari puskesmas mengalami kendala dalam mengakses pelayanan kesehatan. Pihak Puskesmas juga mengalami kesulitan menjangkau kampung-kampung tersebut, terutama ketika terjadi hujan atau kondisi cuaca buruk,” katanya.

Sesi tanya jawab dan diskusi memberi ruang kepada peserta untuk berbagi pengalaman lapangan, mulai dari keterbatasan akses hingga kebutuhan memperkuat komunikasi antara kader, masyarakat, Puskesmas, pemerintah setempat, dan pemangku kepentingan lainnya. Diskusi menunjukkan bahwa ketahanan layanan kesehatan di wilayah terpencil tidak hanya bergantung pada keberadaan fasilitas, tetapi juga pada komunikasi dan koordinasi antarpihak.

Melalui kegiatan ini, Tim 6 Edu-Health Yaffi mendorong kader menjadi local champion untuk menghidupkan upaya promotif dan preventif di masyarakat. Berbekal keterampilan komunikasi, media edukasi yang tepat, serta sinergi dengan pemangku kepentingan, penguatan kapasitas kader ini diharapkan mampu menjembatani keterbatasan akses sehingga informasi dan layanan kesehatan tetap menjangkau seluruh warga hingga ke pelosok wilayah. Di tengah tantangan geografis Distrik Yaffi, layanan kesehatan tidak hanya bertumpu pada fasilitas. Kekuatannya juga tumbuh dari kader yang tinggal, bekerja, dan dipercaya oleh masyarakat

Sejalan dengan semangat pengabdian dan pendampingan masyarakat di perbatasan Papua tersebut, Ketua LPPM UNDIP Prof. Dr.-Ing. Suherman, S.T., M.T., menegaskan komitmen institusi:

 

“Ekspedisi Patriot UNDIP merupakan wujud nyata pengabdian perguruan tinggi yang hadir langsung menjawab kebutuhan masyarakat. Kami ingin memastikan bahwa hasil pengetahuan, inovasi, dan riset UNDIP dapat memberikan manfaat nyata, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan gizi, dan membuka peluang ekonomi berbasis potensi lokal.” kata Prof. Suherman.

Upaya penguatan peran kader ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui penguatan edukasi dan akses informasi kesehatan masyarakat, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas kader dalam komunikasi dan edukasi, dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara masyarakat, kader, puskesmas, pemerintah setempat, dan pemangku kepentingan lainnya.

 

TCN

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel tribuncakranews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wujudkan Polisi Bersama Masyarakat, Polda DIY Perkuat Sinergi dan Kolaborasi dengan Kejati DIY
Diduga Ada Aktivitas Ilegal Menggunakan Alat Berat di Jahawei, Seberang Desa Dahian Tunggal
159 Warga Binaan Lapas Purworejo Jalani Tes Urine, Seluruh Hasil Dinyatakan Negatif
Mie Ayam Tono 11 Buka Outlet di Purworejo, Tempe Kemul Khas Wonosobo Jadi Daya Tarik
FIB UNDIP Rayakan Dies Natalis ke-61 melalui Orasi Budaya dan Pameran Tosan Aji
Diduga Tanpa Izin, Aktivitas Alat Berat di Katingan Jadi Sorotan Masyarakat
Pengeroyokan Maut di Pantura Demak Terungkap, 3 Orang Ditangkap Resmob
Program Pernikahan Massal Sambut Hari Santri Nasional 2026, Kemenag Dorong Edukasi Pernikahan Sesuai Syariah dan Adat
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:05 WIB

Wujudkan Polisi Bersama Masyarakat, Polda DIY Perkuat Sinergi dan Kolaborasi dengan Kejati DIY

Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:02 WIB

Diduga Ada Aktivitas Ilegal Menggunakan Alat Berat di Jahawei, Seberang Desa Dahian Tunggal

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:23 WIB

159 Warga Binaan Lapas Purworejo Jalani Tes Urine, Seluruh Hasil Dinyatakan Negatif

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:17 WIB

Mie Ayam Tono 11 Buka Outlet di Purworejo, Tempe Kemul Khas Wonosobo Jadi Daya Tarik

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:07 WIB

Perkuat Ketahanan Medis di Pelosok Papua, TEP UNDIP Latih Kader Kesehatan

Berita Terbaru