BANJAR, TRIBUNCAKRANEWS.COM – Antrean panjang kendaraan jenis truk memadati bahu kiri dan kanan Jalan A. Yani KM 74, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, pada Sabtu (11/10/2026) sekitar pukul 17.00 WITA. Kondisi tersebut mengakibatkan kemacetan arus lalu lintas dan dikeluhkan masyarakat pengguna jalan.
Pantauan di lapangan, antrean didominasi truk jenis cold diesel yang akan mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar di SPBU 64.706.09. Saking panjangnya antrean, awak media di lokasi turut membantu mengimbau para sopir untuk mengatur kendaraannya agar tidak menutup total akses jalan umum.
Karena kondisi tersebut, awak media kemudian mendatangi kantor pengelola SPBU untuk meminta pihak pengawas mengerahkan petugas atau sekuriti guna mengatur lalu lintas di bahu jalan
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat melakukan pemantauan proses pengisian, awak media menemukan sejumlah kejanggalan. Beberapa truk cold diesel terlihat mengangkat bak dump untuk mengisi tangki BBM kiri dan kanan atau dua tangki sekaligus. Dalam proses tersebut, terlihat operator hanya mencatat nominal pengisian di buku tanpa terlihat proses transaksi pembayaran secara langsung di mesin pomp
Ketika awak media menanyakan keberadaan pengawas, operator menyebut nama berinisial Ami yang berada di belakang kantor. Namun saat ditemui, yang bersangkutan sempat bertanya, “Maaf dari mana, Pak?”. Setelah mengetahui dari awak media, yang bersangkutan enggan memberikan keterangan dan memilih pergi dengan alasan sibuk. Saat diminta nomor kontak untuk konfirmasi, yang bersangkutan hanya melambaikan tangan sebagai isyarat tidak berkena
Untuk mendalami informasi, awak media mewawancarai sejumlah sopir. Seorang sopir berinisial AW mengatakan, pengisian dilakukan menggunakan sistem kupon.
“Kami hanya isi BBM Pak, pembayarannya urusan bos,” ujar AW.
Keterangan berbeda disampaikan sopir lain berinisial JK yang meminta namanya dirahasiakan. Ia mengaku membeli Solar dengan harga yang tidak sesuai harga eceran resmi pemerintah. “Kami biasanya beli solar di sini harga Rp 10 ribu pak,” ujar JK.
Para sopir juga mengungkapkan bahwa SPBU tersebut baru beroperasi sekitar pukul 15.00 WITA pada hari itu. “Biasanya Maghrib itu sudah habis,” ujarnya.
“Kalau tidak cepat tidak kebagian. Soalnya di sini rata-rata setiap bos memiliki lebih dari satu mobil. Salah satunya ada yang memiliki tujuh unit cold diesel. Sopir cuma isi saja karena sudah ada kupon, bosnya yang bayar setiap hari. Saat BBM datang semua mobil antre untuk mengisi,” tutur para sopir.
Praktik antrean berulang dengan sistem kupon yang diduga melibatkan banyak armada dari satu pemilik ini dikhawatirkan menjadi penyebab sulitnya masyarakat umum mendapatkan Solar bersubsidi yang menjadi haknya.
Masyarakat berharap PT Pertamina Patra Niaga melakukan audit menyeluruh terhadap distribusi BBM di SPBU tersebut agar SPBU bersih dari dugaan pelangsiran dan masyarakat dapat memperoleh haknya secara adil dan transparan sesuai regulasi yang berlaku.
Hingga berita ini ditayangkan, awak media masih berupaya menghubungi pihak pengelola SPBU 64.706.09 dan pihak PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan untuk mendapatkan klarifikasi dan konfirmasi resmi terkait temuan di lapangan tersebut. Prinsip praduga tak bersalah dan keberimbangan berita tetap dikedepankan.
Redaksi : kopitv.if membuka ruang hak jawab, hak koreksi, dan hak klarifikasi seluas-luasnya kepada seluruh instansi terkait, khususnya Pengelola SPBU 64.706.09 dan PT Pertamina Patra Niaga, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Undang-Undang ITE. Hak jawab dapat disampaikan melalui redaksi.no wa box Redaksi
Tim Investigasi :
Redaksi :














