KENDAL –Tribuncakranews.com – Kemeriahan Bodri Culture Festival (BCF) ke-6 kembali menggema di Desa Magersari, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (5/9/2026). Festival budaya yang menjadi salah satu rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tersebut berlangsung meriah dan berhasil menyedot perhatian ribuan pengunjung.
Antusiasme masyarakat Desa Magersari terlihat begitu tinggi. Sekitar 90 persen warga desa turut ambil bagian dalam memeriahkan kirab budaya. Mereka tampil dengan berbagai kostum unik dan menarik serta membawa beragam properti hasil kreativitas masyarakat setempat.
Ribuan pengunjung juga memadati sepanjang jalur kirab untuk menyaksikan penampilan warga. Kekompakan dan totalitas peserta menjadi daya tarik tersendiri dalam festival yang mengangkat seni, budaya, serta kreativitas masyarakat Desa Magersari tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bodri Culture Festival ke-6 sendiri merupakan puncak dari rangkaian kegiatan yang telah digelar sejak Agustus hingga September 2026. Sejumlah kegiatan sebelumnya meliputi tasyakuran HUT RI, pentas dangdut, senam bersama, lomba ibu-ibu PKK, pentas seni antar-RT, hingga berbagai pertunjukan budaya dan hiburan.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak, di antaranya Bupati Kendal, Disporapar, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes), Diskominfo, serta DPRD Kendal Fraksi PDI Perjuangan melalui Saifudin.
Kepala Desa Magersari, Muhyidin, mengatakan, Bodri Culture Festival bukan sekadar kegiatan hiburan, tetapi menjadi wadah bagi masyarakat untuk menunjukkan kreativitas sekaligus mempromosikan potensi Desa Magersari.
“Jadi Bodri Culture Festival ini adalah sebuah ajang di mana Magersari yang kecil ini, yang mayoritas nelayan, ternyata kita bisa berkreasi, kreativitas seni dan budaya. Jadi, ajang ini adalah ajang untuk promosi kita, promosi Desa Magersari,” ujar Muhyidin.
“Kita tunjukkan kreativitas kita, seni kita, budaya yang ada di Magersari. Sebagai wujud kita dalam pengembangan budaya di Desa Magersari. Juga ada potensi wisata religi, wisata alam, wisata kuliner dari olahan ikan dan juga lain sebagainya,” jelasnya muhyidin.
Dalam kirab budaya tersebut, peserta yang berasal dari berbagai RT tampil dengan kreativitas masing-masing. Secara umum, peserta mengangkat tema kebudayaan Jawa, mulai dari tokoh pewayangan hingga berbagai karakter tradisional dengan kostum yang dibuat semeriah mungkin.
Tidak hanya kostum, peserta juga membawa berbagai ogoh-ogoh dan properti berukuran besar yang dibuat secara swadaya oleh masyarakat. Berbagai bentuk dan karakter tersebut menjadi bukti tingginya kreativitas serta kekompakan warga.
Salah satu kontingen yang tampil berbeda adalah warga RT 6 RW 2 Desa Magersari. Jika mayoritas peserta mengangkat tema kebudayaan Jawa, kontingen tersebut justru memilih tema internasional, yakni “Cleopatra”.
ningsih, salah satu perwakilan peserta, mengatakan pemilihan tema Cleopatra dilakukan untuk memberikan warna berbeda dalam festival.
“Kita mengangkat tema Cleopatra supaya lebih go international. Walaupun ini festival tingkat desa, tapi kreativitas kita tetap paling oke,” katanya.
Ia menjelaskan, persiapan penampilan tersebut dilakukan hampir selama satu bulan penuh. Seluruh lapisan masyarakat ikut terlibat, mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, hingga anak-anak.
Bahkan, warga melakukan latihan hampir setiap malam agar penampilan mereka dapat maksimal saat mengikuti kirab.
Menariknya, berbagai kostum yang digunakan juga dibuat dari bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan di lingkungan rumah.
“Bahan-bahannya kita pakai dari kardus, spon vinil, cat dan juga manik-manik. Untuk kalah menang dalam lomba itu sudah biasa. Tapi kita tetap juara hati,” ujarnya bangga.
Kemeriahan Bodri Culture Festival ke-6 menunjukkan bahwa keterbatasan bukan menjadi penghalang bagi masyarakat desa untuk berkarya. Dengan semangat gotong royong, warga Magersari mampu menghadirkan sebuah festival yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi seni, budaya, kreativitas, serta kehidupan masyarakat pesisir kepada masyarakat luas.
Melalui festival tersebut, Desa Magersari berharap tradisi dan kreativitas masyarakat dapat terus berkembang serta menjadi bagian dari potensi wisata dan promosi desa di Kabupaten Kendal. (SY)














