Fenomena “Ora Nduwe Isin” dan Senyum Pepesan Kosong Kemunafikan

- Kontributor

Minggu, 25 Oktober 2026 - 08:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tribuncakranews.com asa “ora nduwe isin” (tidak punya rasa malu) kini sudah jarang terdengar di tengah perbincangan masyarakat, baik dari kalangan anak-anak hingga dewasa. Padahal dulu semasa kecil, frasa ini sering kali diucapkan setiap ada sikap yang dianggap tabu. Ketika kita hendak mencuri pentil (buah mangga muda), rambutan, atau tebu di sawah tetangga, orang tua akan langsung menegur, “Ojo, mundak diarani ora nduwe isin” (Jangan, nanti disebut tidak punya rasa malu). Dalam budaya masyarakat, khususnya Jawa, frasa ini bukan sekadar ejekan biasa. Ia adalah tingkatan kritik sosial tertinggi yang menandakan bahwa seseorang telah kehilangan kehormatan, harga diri, dan kompas moralnya.

Namun, zaman telah berubah. Setiap kali membuka ponsel dan membaca berita terbaru di berbagai platform media, isinya kebanyakan tentang kebobrokan moral yang terjadi di tengah masyarakat hingga institusi pemerintahan. Penilaian ini bukan datang dari saya pribadi, melainkan dari para ahli dan komentar masyarakat yang peduli tentang rusaknya keadaan. Di era digital saat ini, krisis moral di masyarakat semakin nyata karena hilangnya rasa malu dan etika. Kasus korupsi, perselingkuhan, hingga pergaulan bebas kini marak terjadi dari lingkungan sekitar hingga tingkat nasional. Hal-hal buruk yang dulunya dianggap sebagai aib memalukan, sekarang justru dipamerkan secara terbuka di media sosial tanpa ada lagi rasa bersalah.

Kondisi ini diperparah oleh teknologi ponsel dan algoritma media sosial yang hanya mengejar perhatian publik. Batas privasi menjadi hilang demi mengejar popularitas, jumlah penonton, dan materi. Alih-alih dihukum secara sosial, para pelaku pelanggaran etika ini justru sering kali diberi panggung dan menjadi viral. Dampaknya, masyarakat menjadi terbiasa dan maklum dengan perilaku menyimpang tersebut. Pamer aurat, pamer kemesraan, berjoget tidak keruan di atas panggung, aksi saweran, dan hal-hal memalukan lainnya justru sengaja dibuat sebagai konten demi mengejar status viral.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fenomena ini mengingatkan saya pada petuah guru panutan saya. Meskipun beliau sering disebut sebagai “Kiai Ndeso”, saya sangat mengaguminya karena beliau mampu membaca keadaan dengan sangat jernih. Beliau sempat berujar, “Wis, blass jian do ora nduwe isin babar pisan. Piye ya, imane wis do tipis, opo ancen wis ora ono. Lha wis ra jajal takoni wong sing pinter-pinter.” (Sudah sama sekali tidak punya rasa malu. Bagaimana ya, imannya sudah menipis atau memang sudah tidak ada. Coba ditanyakan ke orang-orang ahli).

Baca Juga:  Sentuhan Humanis di Hari Bhayangkara ke-80, Kapolda Jateng dan Forkopimda Sukoharjo Bagikan 1000 Pasang Sepatu Gratis Bagi Pelajar

Kegelisahan sang kiai sebenarnya telah diperingatkan oleh Nabi Muhammad SAW ribuan tahun lalu. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di antara ungkapan yang dikenal manusia dari perkataan nubuat terdahulu adalah: Jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” Hadits ini bukan sebuah izin untuk bebas bermaksiat, melainkan sebuah sindiran sekaligus ancaman keras. Artinya, jika rasa malu seseorang sudah hilang, maka tidak ada lagi pembatas antara dirinya dan kehinaan. Ia akan melegalkan segala cara tanpa peduli dosa ataupun etika.

Peringatan tersebut selaras dengan teori psikologi moral. Rasa malu seharusnya berfungsi sebagai kontrol otomatis atau “rem moral” agar seseorang tidak berbuat jahat. Ketika rem moral ini rusak, aturan hukum formal maupun norma agama sekeras apa pun tidak akan lagi ditakuti karena manusia telah kehilangan kesadaran diri untuk mematuhinya.

Ironisnya, kerusakan moral ini sering kali dibungkus rapat-rapat oleh senyum pepesan kosong kemunafikan. Di ruang publik, banyak orang sibuk menampilkan citra suci, santun, dan taat aturan. Namun, keadaan yang terjadi di balik layar justru sebaliknya; perilaku aslinya sangat busuk. Jika kemunafikan dan hilangnya rasa malu ini terus dibiarkan mengakar, bangsa kita akan menghadapi kehancuran moral di mana masyarakat tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Esai ini saya tutup dengan menyelipkan kembali sendau gurau dari sang Kiai Ndeso yang sebetulnya bernada “sersan”—serius tapi santai: “Ojo sampek awak dewe seneng topengan, urip sak titahe, jajal tah rasakno, penak-penak.” (Jangan sampai kita suka memakai topeng kemunafikan, hiduplah apa adanya sesuai kodrat sebagai makhluk, cobalah rasakan, pasti lebih tenang dan nyaman).

 

───

 

Moh. Aslim Akmal – Pegiat Sejarah dan Budaya Kudus Kulon – tinggal di Kudus – 25 Oktober 2026

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel tribuncakranews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perobohan dan Pengrusakan Warung di Desa Kedondong, Sumber Agung Merasa Dirugikan 
Gerakan Sadar Lingkungan: Warga Kp. Punclut Giriawas Ajak Masyarakat Mulai Memilah Sampah dari Rumah
Kapolresta Surakarta Beri Instruksi Keras ke Satres PPA dan PPO: Bersihkan Solo dari Prostitusi dan Perdagangan Orang
Kapolresta Pati Beri Pengarahan Calon Pekerja Migran Korea, Tekankan Kompetensi dan Kedisiplinan
Warga Temukan Balita 2,5 Tahun Sendirian di Indomaret Tuntang, Polisi Bergerak Cepat Temukan Orang Tuanya.
Perencanaan Strategis Holding dalam Memonitor Kinerja Subholding
Revitalisasi TK PGRI Lemahjaya Banjarnegara Rp372,7 Juta Disorot, Pengurus Mengaku Tak Mengetahui RAB
Peringati Sumpah Pemuda, HUT DPD RI dan Milad Bang Japar dengan Donor Darah, Fahira Idris: Bersama Kita Rawat Persatuan dan Persaudaraan
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 10:28 WIB

Perobohan dan Pengrusakan Warung di Desa Kedondong, Sumber Agung Merasa Dirugikan 

Minggu, 25 Oktober 2026 - 10:11 WIB

Gerakan Sadar Lingkungan: Warga Kp. Punclut Giriawas Ajak Masyarakat Mulai Memilah Sampah dari Rumah

Minggu, 25 Oktober 2026 - 08:47 WIB

Fenomena “Ora Nduwe Isin” dan Senyum Pepesan Kosong Kemunafikan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 22:31 WIB

Kapolresta Surakarta Beri Instruksi Keras ke Satres PPA dan PPO: Bersihkan Solo dari Prostitusi dan Perdagangan Orang

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 22:25 WIB

Kapolresta Pati Beri Pengarahan Calon Pekerja Migran Korea, Tekankan Kompetensi dan Kedisiplinan

Berita Terbaru