Jakarta, Tribuncakranews.com Salib bukan sekadar simbol keagamaan, tetapi mengandung pesan iman, moral, dan kemanusiaan yang relevan bagi kehidupan pribadi, sosial, bahkan penyelenggaraan pemerintahan. Salib mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan harus tercermin dalam hubungannya dengan sesama.
Garis vertikal pada salib melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan, Sang Sumber Kebenaran, Keadilan, dan Kasih yang dinyatakan melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Sementara itu, garis horizontal melambangkan hubungan manusia dengan sesamanya. Bagi orang percaya yang telah mengalami kelahiran baru, hubungan tersebut merupakan panggilan untuk menghadirkan kasih Allah dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.
Kedua garis ini mengandung pesan mendasar: hubungan yang benar dengan Tuhan seharusnya menghasilkan hubungan yang benar dengan sesama. Iman tidak cukup diwujudkan melalui doa, ibadah, dan pengakuan keagamaan, tetapi harus nyata dalam tindakan yang membawa kebaikan bagi kehidupan bersama.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam konteks pemerintahan, pesan ini sangat relevan. Pemimpin yang hidup dalam kesadaran akan Tuhan semestinya memiliki integritas, kejujuran, keadilan, kerendahan hati, dan kepedulian terhadap rakyat. Kekuasaan bukanlah sarana untuk memperkaya diri atau menguntungkan kelompok tertentu, melainkan amanah untuk melayani dan memperjuangkan kesejahteraan seluruh rakyat.
Pemerintahan yang ideal tidak cukup hanya dibangun melalui undang-undang, birokrasi, dan sistem pengawasan yang baik. Semua itu harus ditopang oleh karakter dan moralitas para penyelenggaranya. Sebab, ketika nilai-nilai kebenaran diabaikan, kekuasaan berisiko disalahgunakan, hukum kehilangan keadilan, dan kepentingan rakyat dikalahkan oleh kepentingan pribadi maupun kelompok.
Salib mengingatkan bahwa iman kepada Tuhan tidak boleh berhenti pada simbol, identitas, dan ritual keagamaan. Iman harus terlihat dalam cara memperlakukan sesama, terutama mereka yang lemah, miskin, dan terpinggirkan. Di sinilah iman menemukan wujud nyata dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Pada akhirnya, pemerintahan yang ideal tidak hanya membutuhkan pemimpin yang cerdas dan memiliki kekuasaan, tetapi juga pemimpin yang berintegritas, memiliki hati nurani, dan bertanggung jawab di hadapan Tuhan maupun rakyat.
Salib mengajarkan sebuah prinsip mendasar: hubungan vertikal yang benar dengan Tuhan harus menghasilkan hubungan horizontal yang benar dengan sesama. Sebab, semakin dalam seseorang menghayati kasih Tuhan, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menghadirkan keadilan, kebenaran, dan kasih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Inilah fondasi moral bagi terwujudnya pemerintahan yang berkeadilan dan bermartabat. (Budi Setiyanto)














