Gunungkidul, Tribuncakranews. com Ribuan warga memadati kawasan kompleks Balai Kalurahan Ngloro, Kapanewon Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, dalam rangka mengikuti Kirab Budaya Hari Jadi Kalurahan Ngloro ke-110, Jumat (08/05/2026) siang.
Kegiatan berlangsung meriah dengan menampilkan berbagai potensi budaya dari enam padukuhan yang ada di Kalurahan Ngloro.
Sejak pagi hari, rangkaian kegiatan telah dimulai dengan agenda ziarah sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur dan tokoh pendiri kalurahan. Setelah itu, masyarakat mengikuti kirab budaya yang diberangkatkan dari masing-masing padukuhan menuju Pendopo Taman Kayu Apak di Padukuhan Ngloro.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kirab berlangsung semarak dengan iringan gunungan hasil bumi, tumpeng, ingkung, kesenian tradisional, serta peserta yang mengenakan pakaian adat Jawa. Sepanjang jalur kirab, warga tampak antusias menyaksikan rombongan budaya yang berjalan kaki menuju lokasi acara inti.
Plt Lurah Ngloro, Subariman, menjelaskan bahwa peringatan hari jadi Kalurahan Ngloro tahun ini dikemas dalam berbagai kegiatan budaya dan religi yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
“Peringatan hari jadi ke-110 ini kami isi dengan ziarah, kirab gunungan, ikrar tumpeng dan ingkung, kenduri bersama, hingga pengajian. Semua padukuhan ikut berpartisipasi sehingga suasananya sangat meriah,” ujar Subariman.
Ia mengatakan, kirab budaya tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas keberkahan dan kemajuan Kalurahan Ngloro selama lebih dari satu abad berdiri. Selain itu, kegiatan juga menjadi sarana untuk melestarikan budaya lokal agar tetap dikenal generasi muda.
“Antusias masyarakat sangat luar biasa. Ini menunjukkan bahwa warga Ngloro masih memiliki semangat kuat dalam menjaga tradisi dan kebudayaan daerah,” katanya.
Acara inti digelar di bawah pohon besar kawasan Kayu Apak yang dianggap memiliki nilai sejarah bagi masyarakat setempat. Di lokasi tersebut dilaksanakan ikrar kenduri sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki dan keselamatan bagi warga Kalurahan Ngloro.
Usai prosesi kenduri, warga kemudian mengikuti tradisi makan bersama atau kembul bujono. Ratusan tumpeng dan sajian tradisional yang dibawa warga disantap bersama dalam suasana penuh kebersamaan dan kekeluargaan.
Subariman menambahkan, seluruh kebutuhan pelaksanaan kirab, mulai dari kostum peserta, gunungan, hingga perlengkapan acara, berasal dari swadaya masyarakat.
“Mulai pakaian, seragam, gunungan, dan perlengkapan lainnya murni dari dana masyarakat. Ini membuktikan besarnya kepedulian dan semangat gotong royong warga dalam menyukseskan hari jadi kalurahan,” jelasnya.













