SEMARANG, TRIBUNCAKRANEWS.COM // Selasa, 22/9/2206. Teknologi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mengantisipasi seluruh dampaknya. Di satu sisi, kecerdasan buatan, internet, media sosial, komputasi awan, perangkat pintar, dan aset digital menghadirkan berbagai kemudahan. Namun di sisi lain, ruang digital juga telah menjadi medan baru bagi berbagai bentuk kejahatan.
Kejahatan tidak lagi selalu hadir dalam bentuk pertemuan langsung, transaksi tunai, atau aksi di ruang publik. Penipuan dapat dilakukan dari balik layar. Identitas dapat dipalsukan secara digital. Suara dan wajah dapat direkayasa. Informasi pribadi dapat dikumpulkan dari jejak digital. Bahkan sistem yang mengendalikan perangkat dan infrastruktur penting dapat menjadi sasaran serangan.
Inilah wajah baru kriminalitas di era teknologi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi bukan hanya mengubah cara manusia bekerja dan berkomunikasi, tetapi juga mengubah cara kejahatan dilakukan.
Salah satu fenomena yang semakin menonjol adalah digitalisasi kejahatan konvensional. Penipuan, pemerasan, pencurian identitas, perdagangan ilegal, hingga manipulasi informasi dapat dilakukan melalui berbagai platform digital.
Pelaku tidak harus berada di lokasi yang sama dengan korban. Cukup dengan perangkat dan akses internet, seseorang dapat membangun identitas tertentu, menciptakan komunikasi yang meyakinkan, kemudian memanfaatkan kepercayaan korban.
Situasi menjadi semakin kompleks ketika kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk ke dalam ekosistem tersebut.
AI yang pada dasarnya dikembangkan untuk membantu manusia dapat disalahgunakan untuk menghasilkan konten palsu, membuat suara sintetis, memproduksi gambar manipulatif, maupun menyusun komunikasi yang semakin personal.
Teknologi deepfake menjadi salah satu contoh yang memperlihatkan betapa tipisnya batas antara konten autentik dan konten hasil rekayasa.
Tantangannya bukan hanya bagaimana mengenali konten palsu, tetapi juga bagaimana masyarakat, institusi, dan aparat penegak hukum dapat bergerak dengan kecepatan yang sebanding dengan perkembangan teknologi.
JEJAK DIGITAL JADI CELAH
Media sosial juga menghadirkan persoalan tersendiri.
Informasi yang dibagikan secara terbuka dapat memberikan gambaran mengenai aktivitas, kebiasaan, lingkungan sosial, pekerjaan, hingga pola kehidupan seseorang. Apabila informasi tersebut dimanfaatkan secara tidak sah, jejak digital dapat berubah menjadi sumber risiko.
Dalam konteks ini, literasi digital bukan lagi sekadar kemampuan menggunakan aplikasi. Literasi digital juga menyangkut kemampuan memahami risiko, menjaga informasi pribadi, melakukan verifikasi, dan mengenali pola manipulasi.
Sementara itu, perkembangan cryptocurrency dan aset digital menghadirkan tantangan lain bagi penegakan hukum.
Aset digital memiliki berbagai penggunaan yang sah dalam perkembangan ekonomi dan teknologi. Namun, karakteristik transaksi tertentu juga dapat dimanfaatkan untuk menyamarkan atau memindahkan dana yang berkaitan dengan aktivitas ilegal.
Karena itu, aparat penegak hukum membutuhkan kemampuan yang semakin luas, mulai dari investigasi keuangan, analisis transaksi digital, hingga pemahaman terhadap teknologi blockchain dan ekosistem aset virtual.
DARI GAWAI HINGGA INFRASTRUKTUR
Ancaman juga tidak berhenti pada komputer dan telepon pintar.
Perkembangan Internet of Things (IoT) membuat semakin banyak perangkat terhubung ke jaringan internet. Kamera, sensor, kendaraan, perangkat rumah tangga, sistem industri, hingga berbagai fasilitas publik dapat memiliki konektivitas digital.
Konektivitas memberikan efisiensi, tetapi sekaligus memperluas permukaan serangan apabila sistem keamanannya tidak memadai.
Dalam skala tertentu, serangan terhadap sistem digital dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih luas karena menyentuh pelayanan publik, perusahaan, transportasi, energi, kesehatan, maupun infrastruktur penting.
Di titik inilah keamanan siber tidak lagi semata-mata menjadi urusan teknisi komputer.
Keamanan siber telah menjadi bagian dari keamanan publik.
KEJAHATAN JUGA BISA “DISEWAKAN”
Fenomena crime-as-a-service semakin memperlihatkan perubahan ekosistem kriminal di era digital.
Kemampuan teknis, perangkat, akses, atau layanan tertentu dapat diperjualbelikan atau disewakan dalam ekosistem ilegal. Konsekuensinya, seseorang tidak selalu harus memiliki kemampuan teknis tingkat tinggi untuk melakukan serangan.
Pembagian peran dan spesialisasi dapat membuat aktivitas kriminal berjalan lebih terorganisasi.
Namun, perkembangan teknologi tidak hanya memberikan keuntungan kepada pelaku kejahatan.
Teknologi juga menjadi senjata penting untuk mendeteksi dan mengungkap kejahatan.
Digital forensics, analisis data, artificial intelligence untuk mendeteksi pola tidak normal, threat intelligence, analisis jaringan, autentikasi biometrik, hingga pemantauan transaksi dapat membantu mengidentifikasi aktivitas mencurigakan.
Dengan demikian, teknologi memiliki dua sisi.
Di satu sisi dapat disalahgunakan untuk melakukan kejahatan. Di sisi lain dapat digunakan untuk membongkar kejahatan.
MANUSIA TETAP MENJADI FAKTOR UTAMA
Menghadapi perubahan tersebut, pembangunan keamanan digital tidak cukup hanya dengan membeli perangkat teknologi terbaru.
Manusia tetap menjadi faktor penting.
Masyarakat perlu memahami bagaimana menjaga kredensial, membatasi penyebaran informasi pribadi, mengenali penipuan digital, melakukan verifikasi informasi, dan menggunakan autentikasi berlapis.
Organisasi juga perlu membangun budaya keamanan, memperkuat manajemen risiko, memberikan pelatihan kepada sumber daya manusia, serta memiliki mekanisme respons ketika terjadi insiden.
Pada tingkat negara, diperlukan koordinasi antara aparat penegak hukum, regulator, sektor swasta, lembaga pendidikan, penyedia platform digital, dan masyarakat.
Kejahatan digital juga sering melampaui batas wilayah negara. Pelaku dapat berada di satu negara, korban di negara lain, sementara server, perangkat, dan aliran dana berada di yurisdiksi yang berbeda.
Karena itu, kemampuan investigasi digital dan kerja sama lintas yurisdiksi menjadi semakin penting.
TEKNOLOGI BUKAN MUSUH
Pada akhirnya, teknologi bukanlah musuh.
Yang menentukan adalah bagaimana manusia menggunakannya.
Kemajuan teknologi harus berjalan bersama dengan peningkatan etika, keamanan, literasi, regulasi, dan tanggung jawab.
Sebab, semakin canggih teknologi yang digunakan manusia, semakin besar pula konsekuensi apabila teknologi tersebut digunakan tanpa kendali.
Tantangan masa depan bukan menghentikan teknologi, melainkan memastikan teknologi tidak berkembang lebih cepat daripada kemampuan manusia dalam mengamankannya.
Karena itu, membangun keamanan digital bukan hanya tugas aparat, pemerintah, atau perusahaan teknologi.
Ini adalah tanggung jawab bersama.
Teknologi harus menjadi kekuatan untuk menciptakan kemajuan, bukan menjadi jalan baru bagi kejahatan.
Dede Farhan Aulawi














