Majalengka, Tribuncakranews. com – Mandeknya penanganan kasus pengeroyokan terhadap jurnalis di Kabupaten Majalengka memicu tanda tanya besar publik. Lebih dari dua tahun sejak laporan dilayangkan, aparat kepolisian belum juga menetapkan satu pun tersangka, meski identitas para terduga pelaku telah dikantongi. Sabtu, 11/4/2026.
Korban, Ivan Afriandi, jurnalis media Jurnal Investigasi, melaporkan dugaan penganiayaan yang dialaminya pada 29 Desember 2023. Namun hingga April 2026, proses hukum seolah jalan di tempat.
Peristiwa kekerasan itu terjadi sehari sebelumnya, Kamis (28/12/2023), saat Ivan bersama dua rekannya melakukan tugas jurnalistik di sebuah warung yang diduga menjual minuman keras (miras) di depan SMPN 1 Kadipaten, Blok Sawala, Desa Kadipaten, Kecamatan Kadipaten, di jalur utama Bandung–Cirebon.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Alih-alih mendapat klarifikasi, Ivan justru menjadi korban pengeroyokan. Ia dipukul di bagian wajah dan kepala hingga mengalami luka, bahkan sempat dikejar dan dilempari botol oleh sekelompok orang yang diduga pedagang miras beserta rekannya.
“Saya dipukul, dikejar, dilempari botol. Saya hanya menjalankan tugas jurnalistik. Tapi sampai sekarang, pelaku belum juga ditetapkan sebagai tersangka,” ungkap Ivan.
Laporan resmi tercatat dengan Nomor: LP / B / 531 / XII / 2023 / SPKT / POLRES MAJALENGKA / POLDA JABAR. Namun ironisnya, sejak laporan itu dibuat, penanganan kasus tak menunjukkan perkembangan signifikan.
Mandek di Tiga Kapolres, Polisi Bungkam
Lebih mencengangkan, upaya konfirmasi dari berbagai organisasi wartawan justru menemui jalan buntu.
Sedikitnya enam surat resmi telah dilayangkan ke Polres Majalengka, melintasi tiga masa kepemimpinan Kapolres:
AKBP Indra Novianto
AKBP Willy Andrian
AKBP Rita Suwadi
Namun tak satu pun surat tersebut mendapat respons.
Tak hanya itu, sejumlah awak media yang mencoba mendatangi langsung Mapolres Majalengka pun mengaku tidak pernah berhasil menemui pejabat berwenang untuk meminta klarifikasi.
“Kami sudah bersurat berkali-kali, bahkan datang langsung. Tapi tidak pernah ada jawaban. Ini bukan sekadar lambat, tapi terkesan diabaikan,” ujar perwakilan organisasi wartawan.
Ada Apa dengan Polres Majalengka?
Mandeknya kasus ini memunculkan dugaan serius di tengah publik. Apakah ada pembiaran terhadap praktik penjualan miras ilegal? Atau ada faktor lain yang membuat kasus ini tak kunjung diproses?
Lebih jauh, muncul sorotan tajam terhadap komitmen aparat dalam melindungi jurnalis yang menjalankan tugasnya. Jika kekerasan terhadap wartawan saja tak diusut, bagaimana dengan kasus masyarakat biasa?
Publik pun mulai mempertanyakan integritas penegakan hukum di wilayah ini.
Korban Masih Menunggu Keadilan
Ivan berharap negara hadir dalam kasus yang menimpanya. Ia meminta perhatian dari pimpinan tertinggi, mulai dari Kapolri hingga Presiden RI, Prabowo Subianto.
“Saya hanya ingin keadilan. Sudah lebih dari dua tahun, tapi tidak ada kepastian hukum. Saya mohon kasus ini ditindaklanjuti,” ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Polres Majalengka belum memberikan keterangan resmi. Redaksi menyatakan akan terus mengawal kasus ini hingga ada kejelasan hukum. (Marno)













