Mengasap Harapan di Atas Loyang Tua: 16 Tahun Perjuangan Pak Nasihin Menjaga Bandros dan Masa Depan Anak- anaknya

- Kontributor

Senin, 8 Juni 2026 - 14:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

​Garut, Tribuncakranews.com 

Di sudut jalan yang mulai cerah oleh, aroma gurih kelapa parut dan adonan tepung beras

menyeruak di antara bisingnya suara kendaraan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sana, seorang pria paruh baya dengan guratan lelah di wajahnya tengah sibuk membolak-balik penganan di atas loyang besi panas.

​Ia adalah Pak Nasihin (59), warga Kampung Cipicung, Desa Hegarmanah, Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut, Ia seorang pejuang jalanan yang sudah kurang lebih 16 tahun setia memikul gerobak Bandros demi menyambung hidup.

​Di era gempuran kuliner modern yang serba instan dan kekinian, pilihan Pak Nasihin untuk bertahan pada kue tradisional jadul ini bukan tanpa risiko. Seringkali, ia harus menelan pil pahit saat dagangannya sepi peminat ditambah harga mahal minyak bakar/minyak tanah. Namun bagi Nasihin, bandros bukan sekadar cara mencari uang, melainkan jembatan impian bagi masa depan anak-anaknya.

​Air Mata di Balik Gurihnya Bandros

​Perjalanan kurang lebih 16 tahun tentu bukan waktu yang singkat.

Nasihin menceritakan bagaimana pasang surut kehidupan menguji keteguhannya. Ada hari-hari di mana ia yang melelahkan apalagi kalau hujan lebat membuat penikmat bandros enggan keluar rumah.

​”Saya bangun sebelum adzan subuh membuat adonan, seteleh melaksanakan sholat subuh saya langsung berangkat dengan menempuh kiloan meter,” ujarnya

Saya dari rumah tidak sarapan dulu, paling kalau sudah siang beli kupatahu, sekira jam 11.00 saya pulang, setibanya, setelah sholat duhur mencari rumput untuk domba, ya lumayan punya 3 untuk penyambung hidup anak-anak saya 3 kan”, lanjutnya.

“Selain mencari rumput ya paling kerja serabutan termasuk tani, apa saja, kalau tidak seperti ini susah, makanya yang penting halal di sisa waktu setelah jualan saya kerja apa saja,” berkenang Nasihin, matanya tampak berkaca-kaca mengingat kehidupannya yang tegar.

Baca Juga:  Ketua DPW PW FRN Sumut Minta Polda Sumut Periksa Dekan UISU

​Tidak jarang, adonan bandros yang tidak habis terbuang sia-sia karena tidak bisa bertahan lama. Namun, setiap kali rasa lelah dan putus asa itu datang, Nasihin selalu memandangi wajah anak-anaknya yang terus tumbuh besar.

Rasa lelah itu seketika menguap, berganti menjadi bahan bakar semangat yang baru.

​Merawat Tradisi, Melahirkan kesuksesan anak-anaknya.

​Di tengah gempuran zaman, konsistensi Pak Nasihin membuahkan hasil yang luar biasa. Siapa sangka, dari sebongkah kue bandros murah meriah yang harganya tak seberapa,

Pak Naisihin berhasil menafkahi keluarganya secara halal. Lebih dari itu, ia mampu mematahkan stigma bahwa anak seorang pedagang kecil tidak bisa mengenyam pendidikan.

​Dari hasil keringatnya memikul gerobak:

​Anak-anaknya kini tumbuh besar ada yang sudah berkeluarga.

​”Saya ini orang susah, gak punya warisan apa-apa buat anak. Cuma pendidikan yang bisa saya kasih supaya nasib mereka tidak perih seperti bapaknya,” ujar Nasihin sambil menyeka keringat di dahinya.

Pahlawan Kuliner yang Sesungguhnya

​Apa yang dilakukan Pak Nasihin adalah bukti nyata dari sebuah ketulusan dan kerja keras. Ia tidak hanya menjadi pahlawan bagi keluarganya, tetapi juga menjadi penjaga budaya. Di tangannya, kue bandros—kuliner legendaris yang perlahan mulai dilupakan—tetap eksis dan memiliki cita rasa yang tidak pernah berubah sejak 16 tahun lalu.

​Kisah Pak Nasihin mengajarkan kita bahwa pekerjaan apa pun, seberapa pun kecilnya di mata manusia, jika ditekuni dengan keikhlasan dan cinta, akan mampu menghadirkan keajaiban yang besar.

Saat siang semakin maju, Pak Nasihin kembali memikul tanggungannya menjauhi keramaian kota Bungbulang. Di bawah terik matahar dan panasnya jalan.

Pak Nasihin berhasil memikul masa depan generasi penerusnya menuju gerbang kesuksesan.

 

(Enjang)

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel tribuncakranews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PEMBANGUNAN RUKO DI ATAS LAHAN PSDA PROVINSI JAWA TENGAH DI DESA SEMAMPIR PATI DISOROT, SEMPAT DIHENTIKAN SATPOL PP, IZIN DIPERTANYAKAN!
Klarifikasi Amriana Kastury: Saya Fokus Berjualan, Kasus Sudah di Ranah Hukum — Minta Media Berimbang
Alami pecah ban belakang kanan, Bus Bandung Express terguling di Ambarawa.
Siswi SMK Hamil 7 Bulan Diduga Akibat Hubungan dengan Oknum ASN, Status WD Masih Beristri Jadi Sorotan
PENYADAPAN POLITIK: KETIKA ALAT KEKUASAAN MENGAWASI PRESIDEN, DEMOKRASI BERADA DALAM ANCAMAN
Perkuat Karakter Kebangsaan Mahasiswa, Danrem 072/Pamungkas Sambut Audiensi UNJAYA Yogyakarta
Perluas Kontribusi Global Atasi Krisis Lingkungan, UNDIP Gandeng Celvera Biosystems Singapura dalam Proyek Riset “Blue Java”
Pangdam IV/Diponegoro Hadiri Pemakaman Militer Kru Heli MI-17 yang Gugur Saat Misi Karhutla
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 17:26 WIB

PEMBANGUNAN RUKO DI ATAS LAHAN PSDA PROVINSI JAWA TENGAH DI DESA SEMAMPIR PATI DISOROT, SEMPAT DIHENTIKAN SATPOL PP, IZIN DIPERTANYAKAN!

Jumat, 6 November 2026 - 16:57 WIB

Klarifikasi Amriana Kastury: Saya Fokus Berjualan, Kasus Sudah di Ranah Hukum — Minta Media Berimbang

Jumat, 6 November 2026 - 16:43 WIB

Alami pecah ban belakang kanan, Bus Bandung Express terguling di Ambarawa.

Jumat, 6 November 2026 - 16:38 WIB

Siswi SMK Hamil 7 Bulan Diduga Akibat Hubungan dengan Oknum ASN, Status WD Masih Beristri Jadi Sorotan

Jumat, 6 November 2026 - 15:29 WIB

PENYADAPAN POLITIK: KETIKA ALAT KEKUASAAN MENGAWASI PRESIDEN, DEMOKRASI BERADA DALAM ANCAMAN

Berita Terbaru