Diduga Terjadi Mark’up Jumlah Siswa di PKBM Lame luhur Diminta Pihak Terkait Segera Turun Tangan

- Kontributor

Sabtu, 31 Januari 2026 - 16:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Garut Selatan, Tribuncakranews.com — Dugaan penyimpangan data jumlah peserta didik mencuat di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Lame luhur yang berlokasi di Desa Kertamukti, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut. PKBM yang dipimpin oleh Deni Gunawan tersebut tercatat memiliki total 150 siswa, dengan rincian 73 siswa laki-laki dan 77 siswa perempuan.” Sabtu 31 Januari 2026

Namun berdasarkan informasi dari warga masyarakat bahwa jumlah tersebut diduga tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Beberapa pihak menduga kuat telah terjadi mark’up atau penggelembungan data peserta didik yang berpotensi berdampak pada penyaluran bantuan pendidikan dari pemerintah.

Seorang warga masyarakat setempat yang enggan disebutkan namanya menyampaikan bahwa kehadiran siswa di kegiatan belajar tidak sebanding dengan data yang tercantum dalam administrasi lembaga dan tidak terlihat aktivitas belajar mengajar

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kami khawatir data sengaja dibesarkan untuk kepentingan tertentu, terutama terkait dana bantuan pendidikan,” ujarnya.

PKBM sebagai lembaga pendidikan nonformal memiliki peran penting dalam menekan angka putus sekolah, khususnya di wilayah pedesaan. Namun jika pengelolaan data dilakukan tidak transparan, maka tujuan mulia pendidikan bisa tercoreng oleh praktik yang merugikan negara.

Potensi Pelanggaran Hukum

Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), ditegaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan harus dilakukan secara transparan, akuntabel, dan bertanggung jawab. Pasal 48 menyebutkan bahwa pengelolaan dana pendidikan harus berdasarkan prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik.

Apabila terbukti terjadi manipulasi data siswa untuk memperoleh dana bantuan pemerintah, maka perbuatan tersebut berpotensi melanggar hukum pidana, khususnya:

Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001

yang mengatur tentang perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain yang merugikan keuangan negara.

Pasal 3 UU Tipikor menyebutkan bahwa penyalahgunaan kewenangan yang merugikan keuangan negara dapat dipidana penjara dan denda.

Selain itu, pemalsuan atau rekayasa data administrasi juga dapat dijerat dengan ketentuan pidana dalam KUHP terkait keterangan palsu dalam dokumen resmi.

Desakan Audit dan Klarifikasi

Masyarakat kini mendesak Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Inspektorat Daerah, serta aparat penegak hukum untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap PKBM Lame luhur, baik dari sisi jumlah siswa, kehadiran belajar, maupun penggunaan dana bantuan operasional.

Audit dinilai penting untuk memastikan apakah data 150 siswa tersebut benar adanya atau hanya sebatas angka administratif yang tidak mencerminkan kondisi nyata.

“Kami tidak ingin PKBM yang seharusnya membantu pendidikan masyarakat justru menjadi tempat penyimpangan. Pemerintah harus turun langsung dan memeriksa,” ujar warga lainnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak kepala PKBM Lame luhur, Deni Gunawan, belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan tersebut. Upaya konfirmasi masih terus dilakukan untuk mendapatkan klarifikasi dan penjelasan agar informasi yang beredar dapat diuji secara objektif.

Harapan untuk Transparansi Pendidikan

Yang diduga mark’up data siswa ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan terhadap lembaga pendidikan nonformal.

PKBM merupakan ujung tombak pendidikan alternatif bagi masyarakat yang tidak terjangkau sekolah formal, sehingga integritas pengelolanya harus dijaga.

Kami berharap pemerintah daerah bertindak tegas namun adil, dengan mengedepankan pemeriksaan faktual dan transparan.

Jika tidak terbukti, maka nama baik lembaga harus dipulihkan. Namun jika terbukti terjadi penyimpangan, maka proses hukum harus ditegakkan demi menjaga kepercayaan publik terhadap dunia pendidikan.

Penulis : Hdy

Editor : Agus/Redaksi

Sumber Berita: Tim liputan Nasional

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel tribuncakranews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

839 Prajurit TNI AD Resmi Dilantik, Pangdam IV/Diponegoro Tutup Dikmata Gelombang II 2026 
Polres Boyolali Ungkap Duel Sajam Pelajar, Senjata 1,8 Meter Diamankan
Sugiyono Penuhi Klarifikasi Ditressiber Polda Jateng, Bawa Dua Saksi Terkait Dugaan Pencemaran Nama Baik via Facebook
Danrem 072/Pamungkas Hadiri Penutupan Pendidikan 839 Prajurit Muda Infanteri
Lima Jurnalis Dikabarkan Hilang Kontak saat Meliput Erupsi Gunung Anak Krakatau, Ketua PWMOI Pekanbaru Aprianto Berharap Segera Ditemukan dan Selamat
Pelapor Buta Huruf Disuruh Tanda Tangan, Tersangka WNA Penganiayaan Dilepas — Keluarga Akan Lapor Propam Polda Banten!
Sugiyono Menghadap Ditres Siber Polda Jateng, Dua Saksi Disiapkan untuk Perkuat Keterangan
HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-71, Ditlantas Polda Kalbar Salurkan 15 Ribu Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan dan Karhutla
Berita ini 143 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 19:23 WIB

839 Prajurit TNI AD Resmi Dilantik, Pangdam IV/Diponegoro Tutup Dikmata Gelombang II 2026 

Rabu, 9 September 2026 - 19:18 WIB

Polres Boyolali Ungkap Duel Sajam Pelajar, Senjata 1,8 Meter Diamankan

Rabu, 9 September 2026 - 17:26 WIB

Sugiyono Penuhi Klarifikasi Ditressiber Polda Jateng, Bawa Dua Saksi Terkait Dugaan Pencemaran Nama Baik via Facebook

Rabu, 9 September 2026 - 15:30 WIB

Danrem 072/Pamungkas Hadiri Penutupan Pendidikan 839 Prajurit Muda Infanteri

Rabu, 9 September 2026 - 15:27 WIB

Lima Jurnalis Dikabarkan Hilang Kontak saat Meliput Erupsi Gunung Anak Krakatau, Ketua PWMOI Pekanbaru Aprianto Berharap Segera Ditemukan dan Selamat

Berita Terbaru