WONOGIRI, Tribuncakranews.com — Supardi, 43, yang akrab disapa Bagong( BG) warga Desa Kopen, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri, terinspirasi dengan tumpangannya ketika pulang balik merantau Jakarta -Wonogiri bus Agra Mas menjadi satu -satunya sarana transformasi bagi Supardi sejak ia merantau menjadi pemborong bangunan di Jakarta ,hingga Supardi terinspirasi dengan bus Agra Mas yang menjadi pilihan tumpangannya.
”Jauh sebelumnya Supardi tidak berfikir membangun sebuah rumah yang di desain sebuah armada bus melainkan pengin membangun rumah yang berbeda dari rumah-rumah pada umumnya .Namun demikian lantas Supardi mengagumi salah satu armada bus Agra Mas yang setiap saat di tumpangi sehingga munculah gagasan dan ide baru membangun rumah dengan motip dan desain sebuah bus ,walaupun hingga progres bangunan ini baru mencapai 60% ,itu pun Supardi belum minta ijin kepada perusahaan transformasi bus Agra Mas ,” ucap Supardi saat di temui wartawan Jumat (24/24/2026) di rumahnya.
”Supardi mengaku tak menyangka rumah berdesain serupa bus yang ia bangun mendapat perhatian publik dan viral di media sosial. Rumah itu bahkan belum rampung dibangun bahkan nantinya dapat ijin dari pihak perusahaan bus Agra Mas atau tidak , seandainya tidak di perbolehkan saya akan mengambil nama bus lain yang memberi ijin pada saya,” ujar Supardi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
BG mengaku tidak menyangka hunian yang ia rancang sendiri itu menjadi perbincangan warganet. Padahal, awalnya dia hanya ingin membangun rumah yang berbeda dari kebanyakan rumah lainnya, sekaligus menyalurkan kegemarannya terhadap bus, khususnya armada PO Agramas yang selama ini setia menemaninya pulang-pergi merantau.
Di lahan sekitar 225 meter persegi, Bagong membangun dua bangunan utama yang didesain menyerupai dua unit bus yang tengah terparkir. Satu berukuran besar layaknya bus AKAP, sementara satu lainnya berukuran medium. Detailnya dibuat sedemikian rupa agar tampak realistis, mulai dari bodi, kaca, hingga ornamen eksterior.
Tak hanya itu, sentuhan personal juga tampak dari pelat nomor yang dipasang di bagian depan bangunan. Bagong memberi nomor “B 490 NG” yang bisa dibaca sebagai “Bagong”. Selain itu, masing-masing “bus” juga memiliki nomor seri, yakni BG 02 untuk bus besar dan BG 07 untuk bus medium. Nomor tersebut merepresentasikan alamat tempat tinggalnya di RT 002/RW 007 Desa Kopen, Jatipurno, Wonogiri.
“Sejak dulu saya kalau berangkat dan pulang merantau pasti naik Agramas. Jadinya saya pengin buat rumah seperti bus Agramas yang selalu menjadi tumpangan saya.
Sejak viral, rumah tersebut tak pernah sepi dari pengunjung. Mulai dari kreator konten hingga warga biasa datang untuk melihat langsung keunikan bangunan tersebut. Meski demikian, Bagong mengaku belum memiliki rencana menjadikan rumahnya sebagai destinasi wisata, terlebih pembangunan masih berjalan sekitar 60%.
Dia pun sudah merancang konsep akhir tampilan rumahnya. Nantinya, bangunan itu akan dicat merah menyerupai bus Scania double decker milik Agramas. Namun, BG berencana meminta izin terlebih dahulu kepada pihak PO terkait sebelum benar-benar merealisasikan desain tersebut.
“Nanti saya mau izin dulu sama pihak Agramas. Semoga diizinkan. Kalau tidak, ya mungkin desainnya saya sesuaikan dengan bus PO lain,” ujar dia.
Bagong juga menyebut ide rumah berbentuk bus itu murni berasal dari pemikirannya sendiri. Dia mengaku tidak meniru konsep serupa dari tempat lain. “Saya tidak niru, ini murni ide saya. Bahkan mungkin ini yang pertama di Wonogiri, bahkan di Indonesia,” katanya.
Bagi BG, rumah tersebut bukan sekadar bangunan tempat tinggal, melainkan simbol perjalanan hidup dan kecintaannya pada dunia transportasi darat. Kini, di tengah kesederhanaan desa, “bus” miliknya justru menjadi ikon baru yang menarik perhatian banyak orang.
Penulis : Khanza Haryati
Editor : Khanza Haryati
Sumber Berita: Persatuan Jurnalis Wonogiri













