Kebumen, Tribuncakranews.com 8 Juli 2026 – Badan Kerja Sama Gereja-Gereja (BKSGK) Kabupaten Kebumen di bawah kepemimpinan Pdt. Reinhard Hatane, S.Th. periode 2024–2027 mengutus dua orang perwakilannya, Pdt. Budi Setiyanto, M.Th. dan Pdt. Teguh Hindarto, M.Th., S.Sos., untuk mengikuti kegiatan “Harmoni dalam Keberagaman untuk Kebumen yang Damai, Guyub, dan Rukun” yang diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kebumen di Hotel Trio Azana Style Kebumen, Selasa (8/7).
Forum yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB tersebut merupakan agenda tahunan Kesbangpol Kabupaten Kebumen sebagai bagian dari upaya memperkuat kerukunan umat beragama serta membangun sinergi antara pemerintah daerah, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), tokoh agama, organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan, dan berbagai elemen masyarakat. Kegiatan ini diikuti sekitar 50 peserta yang mewakili enam agama yang diakui di Indonesia.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Kebumen, Widiatmoko, S.H., M.H., saat membuka kegiatan menegaskan bahwa kerukunan umat beragama merupakan fondasi utama dalam menjaga stabilitas sosial, keamanan, dan keberlangsungan pembangunan daerah. Menurutnya, tantangan ekonomi akibat keterbatasan anggaran tidak boleh mengurangi semangat seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat persatuan dan kebersamaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kerukunan umat beragama adalah tanggung jawab bersama. Sinergi antara pemerintah, tokoh agama, FKUB, dan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci dalam menjaga Kebumen tetap damai, guyub, dan rukun,” kata Widiatmoko.
Ia mengajak seluruh tokoh agama dan organisasi keagamaan untuk terus memperkuat komunikasi, membangun kepercayaan, serta menjadi teladan dalam menumbuhkan budaya toleransi, persaudaraan, dan semangat gotong royong di tengah masyarakat yang majemuk.
Diskusi panel menghadirkan dua narasumber yang membahas penguatan kerukunan umat beragama dari perspektif kebijakan dan akademik. Materi pertama bertajuk “Strategi Mewujudkan Kerukunan Umat Beragama melalui Sinergi Pemerintah, Tokoh Agama, dan FKUB” disampaikan oleh Dr. H. Salim Wazdy, S.Ag., M.Pd., dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen.
Dalam paparannya, Salim Wazdy menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah, tokoh agama, FKUB, dan masyarakat merupakan strategi efektif untuk mencegah potensi konflik sosial sekaligus memperkuat budaya toleransi yang telah tumbuh di Kabupaten Kebumen. Menurutnya, kondisi Kebumen yang hingga kini tetap dikenal sebagai daerah yang damai, guyub, dan rukun merupakan hasil dari komunikasi yang baik, sikap saling menghormati antarpemeluk agama, serta komitmen bersama seluruh elemen masyarakat dalam menjaga persatuan.
Sementara itu, materi kedua bertajuk “Moderasi Beragama sebagai Fondasi Harmoni dalam Keberagaman untuk Kebumen yang Damai, Guyub, dan Rukun” disampaikan oleh akademisi Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Kebumen, Dr. Fikria Najitama, M.S.I.
Ia menjelaskan bahwa moderasi beragama merupakan cara pandang yang mengedepankan keseimbangan, penghormatan terhadap perbedaan, serta komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan sebagai landasan kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, pemahaman tersebut perlu terus ditanamkan kepada generasi muda agar memiliki wawasan yang inklusif terhadap kemajemukan.
“Keberagaman adalah sunatullah. Karena itu, generasi muda perlu didorong untuk memandang perbedaan sebagai kekuatan yang mempererat persaudaraan dan memperkokoh persatuan bangsa,” ujarnya.
Pada akhir sesi diskusi, kedua narasumber mendorong agar gagasan pembentukan Forum Kerukunan Generasi Muda Kabupaten Kebumen segera direalisasikan melalui berbagai program kolaboratif lintas agama. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang dialog, edukasi, dan pengembangan kepemimpinan bagi generasi muda dalam membangun budaya toleransi serta memperkuat kehidupan masyarakat yang damai, guyub, dan rukun.
Melalui penyampaian materi dan dialog interaktif, para peserta diajak memperkuat komitmen bersama untuk menjaga kerukunan umat beragama melalui sikap saling menghormati, membangun komunikasi yang terbuka, serta meningkatkan kerja sama lintas agama sebagai bagian dari upaya memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.
Keikutsertaan BKSGK Kabupaten Kebumen dalam kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen gereja-gereja di Kabupaten Kebumen untuk terus mengambil bagian dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai, harmonis, dan inklusif. Sebagai wadah kerja sama gereja-gereja, BKSGK meyakini bahwa kerukunan antarumat beragama merupakan modal sosial yang sangat penting dalam menjaga stabilitas daerah, memperkuat kohesi sosial, serta mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
Melalui forum dialog seperti ini, diharapkan sinergi antara pemerintah daerah, FKUB, tokoh agama, organisasi keagamaan, dan seluruh elemen masyarakat semakin kuat dalam merawat nilai-nilai toleransi, persaudaraan, serta semangat gotong royong. Komitmen bersama tersebut menjadi fondasi penting untuk mewujudkan Kabupaten Kebumen sebagai daerah yang damai, guyub, rukun, dan harmonis dalam keberagaman, sekaligus menjadi teladan bagi penguatan kerukunan umat beragama di Indonesia. (Budi Setiyanto)












