‎Fenomena Pesugihan Kandang Bubrah: Ritual Kekayaan Tanpa Tumbal Yang Mengguncang Purwantoro. ‎

- Kontributor

Senin, 27 Juli 2026 - 08:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wonogiri, Tribuncakranews.com – Sabtu 9 Juli 2026 – Di balik ketenangan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tersimpan sebuah situs yang kini menjadi pusat perbincangan masyarakat luas. Makam Tembungboyo di Kelurahan/Kecamatan Purwantoro kini dikenal sebagai lokasi ritual Pesugihan Kandang Bubrah, sebuah praktik mistis yang diyakini banyak orang sebagai jalan pintas meraih kemakmuran tanpa harus menyertakan tumbal manusia.

‎Menurut cerita yang beredar di masyarakat, Pesugihan Kandang Bubrah merupakan salah satu bentuk pesugihan yang relatif “ringan” karena tidak menuntut korban jiwa. Namun, para pelaku diingatkan bahwa ritual ini tetap menyimpan risiko besar. Salah satu syarat utama yang harus dipenuhi adalah kewajiban memperbaiki atau merenovasi rumah milik pelaku setiap tahun. Jika syarat tersebut diabaikan, ancaman celaka mengintai baik pelaku maupun keluarganya.

‎Keberadaan situs ini sudah berlangsung sejak lama. Awal mula makam umum Tembungboyo yang ditumbuhi pohon besar tersebut menjadi tempat pesugihan masih diselimuti misteri hingga kini. Dulu, lokasi ini dijaga oleh almarhumah Mbok Sum sebagai pekuncen. Kini tugas tersebut dilanjutkan oleh anaknya, Mas Gareng. Meski sudah lama dikenal secara lokal, popularitas Makam Tembungboyo melonjak drastis beberapa tahun terakhir seiring banyaknya pengunjung dari luar Wonogiri yang datang mencari berkah.

‎Masyarakat setempat memandang fenomena ini sebagai bagian dari kearifan lokal yang diwariskan nenek moyang. Namun, kedatangan para pencari pesugihan yang kerap membawa mobil pribadi dan datang berulang kali justru memicu perpecahan di kalangan warga Purwantoro. Sebagian masyarakat khawatir lokasi tersebut berubah menjadi tempat pemujaan roh halus yang bisa mengganggu ketentraman kampung.

‎Pengunjung biasanya berdatangan pada malam hingga dini hari, terutama pada malam Jumat Kliwon dan Jumat Wage. Mereka membawa berbagai sesaji seperti kembang, ayam panggang tumpeng, minyak serimpi, serta persyaratan lain sesuai petunjuk juru kunci. Banyak yang mengaku keinginan mereka terkabul setelah menjalankan ritual, sehingga mereka kembali lagi untuk bersyukur atau meminta tambahan.

‎Salah seorang pengunjung, Sri Handayani, mengungkapkan alasan kedatangannya. “Saya datang kesini mau ritual agar diberi kemudahan mencari nafkah. Kata teman saya dia berhasil lantaran dari sini,” ucap Sri saat berbincang dengan wartawan.

‎Fenomena ini mencerminkan kompleksitas hubungan antara kepercayaan tradisional, ekonomi, dan dinamika sosial di pedesaan Jawa. Meski menjanjikan kemudahan materi, para ahli budaya dan tokoh agama mengingatkan agar masyarakat tetap berhati-hati dan tidak meninggalkan nilai-nilai spiritual yang sehat.

Penulis : Khanza Haryati

Editor : Khanza Haryati

Sumber Berita: Nandar/PJW

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel tribuncakranews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Beraksi di Sejumlah Lokasi, Pencuri Spesialis HP Dibekuk Tim URC Polres Sragen
Bapas Pati Dukung Peliputan ANTARA, Kenalkan Implementasi Pidana Kerja Sosial kepada Masyarakat
Sidang Gugatan Gardu Induk Memasuki Tahapan Bukti Awal Atau Profesi
Praktek “TENDER SEMU” dan Resiko Hukumnya. Ketua LSM Tamperak Jateng Menyapa.
Tokoh Forum Banyumas Eling Gelar Diskusi Kebijakan Parkir, Berharap Rencana Parkir Gratis di Alfamart Ditinjau Kembali
Polres Boyolali Ungkap Duel Sajam Pelajar, Senjata 1,8 Meter Diamankan
839 Prajurit TNI AD Resmi Dilantik, Pangdam IV/Diponegoro Tutup Dikmata Gelombang II 2026 
Polres Boyolali Ungkap Duel Sajam Pelajar, Senjata 1,8 Meter Diamankan
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 13:57 WIB

Beraksi di Sejumlah Lokasi, Pencuri Spesialis HP Dibekuk Tim URC Polres Sragen

Kamis, 10 September 2026 - 10:31 WIB

Bapas Pati Dukung Peliputan ANTARA, Kenalkan Implementasi Pidana Kerja Sosial kepada Masyarakat

Kamis, 10 September 2026 - 10:07 WIB

Sidang Gugatan Gardu Induk Memasuki Tahapan Bukti Awal Atau Profesi

Kamis, 10 September 2026 - 08:26 WIB

Praktek “TENDER SEMU” dan Resiko Hukumnya. Ketua LSM Tamperak Jateng Menyapa.

Rabu, 9 September 2026 - 21:43 WIB

Tokoh Forum Banyumas Eling Gelar Diskusi Kebijakan Parkir, Berharap Rencana Parkir Gratis di Alfamart Ditinjau Kembali

Berita Terbaru