Semarang, Tribuncakranews. com – Lapangan Garnisun Kalisari pagi ini menjadi saksi khidmatnya Salat Idul Adha yang diikuti ribuan warga LDII Kota Semarang, Rabu (27/5/2026).
Bertindak sebagai Imam sekaligus Khotib adalah Ir. H. Agus Rudi, yang mengangkat tema mendalam: “Iedul-Qurban, Meneladani Ketakwaan Nabi Ibrahim.”
Dalam khutbahnya, H Agus menekankan bahwa Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan, tapi momen penghayatan dan keteladanan iman yang luar biasa dari Nabi Ibrahim, istrinya Siti Hajar, serta putra mereka, Nabi Ismail.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Idul Adha mengingatkan kita akan ujian berat yang dihadapi Nabi Ibrahim. Setelah menanti keturunan selama puluhan tahun, ia akhirnya dikaruniai putra, Ismail.
Namun, kebahagiaan itu diiringi dengan ujian keimanan saat Allah memerintahkan untuk meninggalkan anak dan istrinya di lembah tandus, lalu menyembelih sang putra.
Ini bukan semata kisah sejarah, tapi teladan agung tentang keikhlasan, ketaatan, dan keyakinan terhadap Allah.
Seperti ibu Hajar yang yakin bahwa Allah tak akan menelantarkannya. Sebuah pelajaran bagi siapa pun yang tengah diuji dalam hidupnya.
Qurban: Cermin Cinta pada Allah
Agus mengingatkan bahwa qurban bukan sekadar menyembelih kambing atau sapi. Esensi qurban adalah wujud ketundukan kita kepada Allah.
Sayangnya, masih banyak orang yang enggan berqurban meski mampu. Bahkan, memilih hewan paling kecil demi ‘sekadar menggugurkan kewajiban’.
“Ingat, kita tidak sedang menyembelih anak kita seperti Nabi Ibrahim. Kita hanya diminta sedikit dari harta untuk menunjukkan bahwa cinta kepada Allah lebih besar daripada cinta dunia,” tegas KH Agus.
Menjadi Teladan di Tengah Keluarga
Selain makna ibadah, khutbah juga menyoroti peran ayah sebagai pemimpin keluarga. Tugas utama orang tua bukan sekadar mencukupi materi, tetapi menyelamatkan keluarga dari api neraka.
Ayat dalam QS At-Tahrim ayat 6 dijadikan dasar: “Wahai orang-orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.
( Sukindar)













