Menatap Atap yang Hampir Ambruk: Kisah Ibu An An, Janda Dhuafa di Garut yang Bertaruh Nyawa di Rumah Tak Layak Huni

- Kontributor

Kamis, 5 November 2026 - 22:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GARUT, TRIBUNCAKRANEWS.COM 

Di balik perbukitan Kampung Sukamukti (Kiara Rambay), RT 05 RW 09, Desa Cibodas, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, tersimpan narasi pilu tentang perjuangan seorang ibu tunggal. Ibu An An, seorang janda dhuafa yang harus membesarkan empat anak seorang diri, kini terpaksa hidup bertaruh nyawa di dalam rumah yang hampir roboh.

​Struktur bangunan tempat berteduh keluarga kecil ini telah berada di ambang kemerosotan total.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Atap rumah tak lagi mampu menopang beban secara mandiri; kayu kuda-kuda, gording, usuk, hingga reng sudah banyak yang patah. Demi mencegah atap ambruk menimpa anak-anaknya, bambu-bambu penopang dipasang di berbagai sudut rumah sebagai penyangga darurat. Setiap kali hujan deras mengguyur, tak ada satu pun sudut ruangan yang luput dari kebocoran, sementara lantai papan kayu di area dapur dan kamar telah hancur dimakan usia.

Kabar mengenai keprihatinan ini pertama kali mencuat setelah Muhammad Azis, salah satu kerabat Ibu An An, mengirimkan pesan singkat via Direct Message (DM) TikTok pada Rabu malam (04/11/2026) pukul 23.21 WIB.

Menindaklanjuti laporan tersebut, peninjauan lapangan digelar pada Kamis (05/11/2026) bersama jajaran Pusdalops BPBD Garut, Tagana Dinsos Garut, Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Garut, Pemerintah Kecamatan Cikajang, Pemerintah Desa Cibodas, serta PAC PDI Perjuangan Cikajang.

​Saat rombongan tiba di lokasi, Ibu An An bahkan tidak berada di rumah. Ia harus dijemput terlebih dahulu dari tempatnya mengadu nasib di kawasan perkebunan Desa Sukawargi, Kecamatan Cisurupan. Bekerja keras sebagai buruh tani, Ibu An An hanya mengantongi upah Rp25.000 per hari—nominal yang jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok harian, apalagi membiayai perbaikan rumah secara mandiri.

​Dalam kunjungan darurat tersebut, penanganan awal disalurkan untuk meringankan beban keluarga. DKP Garut memberikan bantuan sembako, BPBD Garut menyalurkan selimut, terpal, dan family kit, sementara bantuan paket sembako beserta santunan uang tunai diserahkan langsung sebagai bentuk kepedulian.

Baca Juga:  Danrem 072/Pamungkas Hadiri Penutupan Pendidikan 839 Prajurit Muda Infanteri

​”Upah Rp25 ribu sehari jangankan untuk membetulkan atap yang patah, untuk makan empat anak saja sudah sangat berat. Kehadiran lintas pihak ini adalah langkah awal agar Ibu An An tidak merasa berjuang sendirian.”

​Terganjal Kendala Administrasi

​Pemerintah Desa Cibodas sebenarnya telah berulang kali mengusulkan nama Ibu An An agar mendapatkan program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) dari Pemerintah Kabupaten Garut. Namun, bantuan tak kunjung terealisasi akibat kendala legalitas: SPPT rumah tersebut masih tercatat atas nama almarhumah ibunya. Aturan administrasi ini menghambat Ibu An An untuk ditetapkan sebagai penerima manfaat bantuan Rutilahu, baik dari skema APBD maupun APBN.

​Guna mengurai benang kusut tersebut, Pemerintah Kecamatan Cikajang telah diminta untuk mengawal proses perubahan data SPPT ke Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Garut agar hak administratif korban dapat segera terpenuhi.

​Mendesak Keterlibatan Forum TJSLP dan BAZNAS

​Kondisi kritis yang dialami Ibu An An menjadi penegas pentingnya langkah taktis dari pemangku kebijakan daerah.

Bupati Garut didesak untuk segera membentuk Forum Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (TJSLP) agar potensi dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari sektor swasta dapat dialokasikan secara cepat dan tepat sasaran untuk kasus-kasus kemanusiaan serupa.

​Di samping itu, peran aktif BAZNAS Kabupaten Garut sangat diharapkan hadir sebagai jembatan penderitaan, memberikan solusi nyata tanpa terhalang sekat-sekat birokrasi yang kaku demi menjamin keselamatan Ibu An An dan keempat anaknya.

 

Enjang

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel tribuncakranews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lima Bulan Dilanda Kekeringan, Air Bersih Jadi Mahal! Kapolres Sragen Turun Langsung Salurkan 5 Tangki di Dua Desa Sumberlawang
Polres Gunungkidul Ungkap Kasus Penyalahgunaan BBM Bersubsidi Dengan Modus Truk Boks Modifikasi dan Plat Nomor Palsu
Polres Gunungkidul Ungkap Kasus Dugaan Penyalahgunaan Pengangkutan BBM
Kenang Jasa Para Pendiri, Kapolres Karanganyar Bersama Forkopimda Ziarah Peringati Hari Jadi ke-109
Dukung Peternak Mikro, BULOG Kanwil Yogyakarta Ikuti Teleconference Nasional dan Perkuat Penyaluran Jagung SPHP serta Penyerapan Telur
Jelang Nataru 2026/2027, Polda Jateng Petakan Kerawanan Infrastruktur Jalan dan Jembatan
Danrem 072/Pamungkas Pantau Langsung Garjas Prajurit, Tekankan Kesiapan Fisik Hadapi Tugas
Kritik! Laskar NKRI Bongkar Persoalan Keselamatan Kapal dan Desak Pimpinan ASDP Merak Dicopot
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 22:05 WIB

Menatap Atap yang Hampir Ambruk: Kisah Ibu An An, Janda Dhuafa di Garut yang Bertaruh Nyawa di Rumah Tak Layak Huni

Kamis, 5 November 2026 - 19:41 WIB

Lima Bulan Dilanda Kekeringan, Air Bersih Jadi Mahal! Kapolres Sragen Turun Langsung Salurkan 5 Tangki di Dua Desa Sumberlawang

Kamis, 5 November 2026 - 18:30 WIB

Polres Gunungkidul Ungkap Kasus Penyalahgunaan BBM Bersubsidi Dengan Modus Truk Boks Modifikasi dan Plat Nomor Palsu

Kamis, 5 November 2026 - 18:22 WIB

Polres Gunungkidul Ungkap Kasus Dugaan Penyalahgunaan Pengangkutan BBM

Kamis, 5 November 2026 - 18:16 WIB

Kenang Jasa Para Pendiri, Kapolres Karanganyar Bersama Forkopimda Ziarah Peringati Hari Jadi ke-109

Berita Terbaru