KENDAL — Tribuncakranews.com – Suasana semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia berpadu dengan tradisi Merti Desa di Desa Bangunsari, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Rangkaian kegiatan yang digelar selama tiga hari berturut-turut, mulai 29 hingga 31 Agustus 2026, berlangsung meriah dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Tidak hanya warga Desa Bangunsari, sejumlah masyarakat dari luar desa juga turut memadati berbagai kegiatan yang diselenggarakan.
Rangkaian acara diawali pada Sabtu (29/8/2026) dengan kegiatan senam pagi yang dilanjutkan jalan sehat. Kegiatan tersebut semakin meriah dengan disiapkannya sekitar 250 hadiah doorprize bagi para peserta, dengan hadiah utama berupa sepeda listrik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sekitar 1.000 peserta mengikuti jalan sehat tersebut. Menariknya, seluruh hadiah yang disediakan panitia diberikan secara gratis tanpa dipungut biaya kepada peserta.
Kemeriahan berlanjut pada Minggu (30/8/2026) dengan pertunjukan kesenian barongan yang digelar sejak siang hingga malam hari. Ribuan masyarakat tampak antusias menyaksikan pertunjukan kesenian tradisional tersebut.
Sementara itu, puncak rangkaian Merti Desa sekaligus peringatan HUT RI ke-81 digelar Senin (31/8/2026) melalui pagelaran wayang kulit dengan menghadirkan dalang Joko Sunarno dari Karang Gede, Boyolali, Jawa Tengah.
Pagelaran tersebut mengangkat lakon “Semar Bangun Kayangan”, yang sarat dengan pesan kebersamaan dan semangat membangun desa.
Kepala Desa Bangunsari, Suwandi, mengatakan rangkaian kegiatan tersebut merupakan bentuk rasa syukur sekaligus upaya mempererat kebersamaan masyarakat dalam momentum HUT RI ke-81 dan Merti Desa.
“Ini acara Merti Desa sekaligus memperingati HUT RI ke-81. Rangkaian kegiatan dimulai tanggal 29 Agustus dengan jalan sehat dan berbagai hadiah doorprize. Kurang lebih ada 250 hadiah, dengan hadiah utama sepeda listrik,” ujar Suwandi.
Menurutnya, sekitar 1.000 warga mengikuti jalan sehat tersebut. Seluruh hadiah diberikan secara cuma-cuma sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat.
“Semua hadiah gratis, tanpa pungutan biaya sedikit pun,” tegasnya.
Suwandi menambahkan, setelah jalan sehat, masyarakat kembali dihibur dengan kesenian barongan pada 30 Agustus yang berlangsung siang hingga malam. Kemudian, rangkaian kegiatan ditutup dengan pagelaran wayang kulit pada 31 Agustus.
“Puncaknya hari ini adalah kesenian wayang kulit dengan dalang Joko Sunarno dari Karang Gede, Boyolali, Jawa Tengah. Temanya Semar Bangun Kayangan,” jelasnya.
Ia menjelaskan, tokoh Semar dipilih karena memiliki makna filosofis yang kuat. Semar merupakan sesepuh dalam Punakawan yang menjadi simbol kebijaksanaan dan pengayoman.
“Semar itu sesepuhnya Punakawan. Ibaratnya kami bersama masyarakat membangun desa secara bersama-sama,” ungkap Suwandi.
“Untuk desa kami, Senin Kliwon memiliki aura spiritual tersendiri atau kewibawaan bagi desa. Pagelaran wayang kulit ini juga sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi yang selama ini kami nikmati serta diberikan kesehatan dan keselamatan,” tuturnya.
“Semoga Desa Bangunsari bisa semakin maju dan masyarakat semakin makmur,” harapnya.
Semarak Merti Desa dan HUT RI ke-81 ternyata tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat. Banyaknya pengunjung dari luar desa juga memberikan dampak positif bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Desa Bangunsari.
Salah seorang warga Desa Bangunsari, Lilik Khoiriah, mengaku bersyukur karena rangkaian kegiatan tahun ini berlangsung sangat meriah.
“Alhamdulillah, acara tahun ini sangat meriah dan digelar selama tiga hari berturut-turut. Yang paling kami rasakan, peringatan HUT RI ke-81 ini juga membantu UMKM warga Desa Bangunsari,” kata Lilik.
“Begitu banyak pengunjung dari luar desa yang datang untuk menyaksikan acara-acara yang diselenggarakan di Desa Bangunsari. Saya berharap dengan kegiatan seperti ini masyarakat bisa terbantu dari sisi ekonomi,” ujarnya.
“Semoga ke depannya desa bisa rutin menyelenggarakan acara seperti ini setiap tahun sehingga masyarakat semakin terbantu,” harapnya lilik.
Apresiasi juga disampaikan M. Athar Wibisono, mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang. Ia mengatakan dirinya bersama rekan-rekan mahasiswa melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 45 hari di Desa Bangunsari
“Kami di sini selama 45 hari. Saya berterima kasih kepada warga Desa Bangunsari yang telah menerima kami dengan sangat baik untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata,” katanya.
“Selama tiga hari ini kami melihat banyak hal yang sebelumnya belum kami ketahui, karena adat di Desa Bangunsari masih terjaga,” ungkapnya.
“Dari sisi UMKM masyarakat ada peningkatan karena banyak kunjungan dari desa-desa lain yang datang untuk menyaksikan acara demi acara yang diselenggarakan,” jelas Athar. (SY)














