Kendal – Tribuncakranews.com – Ratusan warga dari Desa Tunggulsari Kecamatan Brangsong, bersama perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kendal menggelar aksi damai di depan Gedung DPRD Kendal, Senin (22/6/2026). Mereka menyampaikan aspirasi penolakan aktivitas galian C di desanya.
Para warga yang sebagian besar bapak-bapak dan emak-emak tersebut menerikkan yel-yel sambil membentangkan tulisan, “Jangan Rusak Desa Kami”, “Hasil Musdes Sepakat Tolak Galian C”, “Kawasan Anti Gebal”, “Petani Tulang Punggung Negara”, “Peringatan Terakhir Tolak Galian C”, serta “Jawa Tengah Wis Parah” dan lain-lain.
Dalam orasinya, salah satu peserta Bonang menekankan, aksi damai yang digelar sebagai bentuk penolakan rencana aktivitas galian C di Desa Tunggulsari. Ia menyebut, aktivitas telah merusak bukit-bukit nan hijau di Kendal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dulu sebelum 2019, wilayah bukit Tunggulsari, bukit Ngampel semuanya adalah hijau. Tapi, berkat campur tangan kalian, semua jadi kuning. Kendal terkenal dengan kegebalannya, Kendal terkenal dengan dam truk-nya, dan Kendal terkenal dengan galian C-nya. Selamat datang di kabupaten galian C,” tandasnya.
“Semua kata-kata itu, semua kalimat-kalimat itu, berseliweran di medsos, berseliweran di telinga-telinga masyarakat. Bahkan ada Bupati Kendal, bukannya disambut dengan tepuk tangan, malah dinyinyirin, selamat datang ratu galian C, selamat datang bupati tambang,” imbuh Bonang.
Untuk itu, dirinya menuntut kepada Bupati Kendal agar mendengarkan aspirasi masyarakat yang selama ini beredar, kemudian disampaikan kepada pihak terkait.
“Selanjutnya, segera usut oknum dewan yang sudah ikut campur, yang sudah cawe-cawe untuk memperlancar tambang galian C,” kata Bonang dalam orasinya.
Sementara itu di tempat yang sama, para mahasiswa dari BEM Kendal melalui Najib, menuntut kepada pemerintah kabupaten untuk lebih memperhatikan aspirasi dan pro dengan rakyat. Ia juga menuntut terkait program MBG dan galian C.
“Kami disini menuntut, bagi masyarakat Kendal dan teman-teman mahasiswa untuk menolak dan menutup makan bergizi gratis, juga menolak galian C yang ada di Kendal,” ujarnya.
Najib menyebut, pihaknya telah mendapatkan informasi dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), bahwa di Kendal sudah ada 44 tambang yang beroperasi.
“Tapi pajak retribusi dari tambang di tahun 2025, dari Pemerintah Kabupaten Kendal hanya menargetkan Rp 2,5 miliar. Sedangkan dari perhitungan pajak, seharusnya satu tambang saja bisa memberikan kontribusi Rp 1,1 miliar, dimana kebocoran hasil pajak tersebut. Karena seharusnya bisa mendapatkan Rp 40 milar,” tandasnya.
“Belum lagi, dampak dari aktivitas galian C selama ini mengganggu lalu lintas, kemudian mengakibatkan longsor, hingga banjir,” ungkap Najib.
Hingga akhir aksi damai di depan Gedung DPRD Kendal, tidak ada satu pun anggota dewan yang menemui. Aksi itu mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian, TNI, dan Satpol PP.
Bahkan para Polwan nampak membentangkan poster dengan tulisan, “Selamat Datang Pejuang Demokrasi”, “Suaramu Berarti”, dan “Haus Bikin Emosi Jangan Lupa Minum Air Putih”, sambil membagikan air mineral kepada peserta aksi.
Surya













