HUT ke-67 TSS Indonesia: Menjaga Persatuan Pemuda melalui Pencak Silat dan Pendidikan Karakter

- Kontributor

Minggu, 9 Agustus 2026 - 20:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PURWOREJO Tribuncakranews.com – Di tengah derasnya arus modernisasi, Perguruan Seni Bela Diri Pencak Silat Tri Susila Indonesia (TSS Indonesia) tetap memegang teguh cita-cita awal pendiriannya: menyatukan generasi muda melalui pembentukan karakter.

Bagi TSS Indonesia, pencak silat bukan sekadar kemampuan bela diri. Lebih dari itu, pencak silat menjadi sarana membentuk pribadi yang mampu mengendalikan diri, menjaga kerukunan, serta menciptakan kehidupan yang aman dan harmonis.

Semangat tersebut kembali ditegaskan dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-67 TSS Indonesia yang digelar sederhana di Padepokan TSS Indonesia, Kelurahan Cangkrep Kidul, Kecamatan/Kabupaten Purworejo, Sabtu (8/8/2026) malam.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penasihat TSS Indonesia, Lasiman, mengatakan perjalanan TSS bermula pada Minggu Legi, 9 Agustus 1959, di Dusun Joho, Cangkrep Kidul. Perguruan tersebut diprakarsai almarhum Tugino, BA, sebagai bentuk keprihatinan terhadap perpecahan di kalangan pemuda akibat perbedaan politik dan kepentingan pada era 100 partai.

“Gagasan tersebut tidak terlepas dari keprihatinan almarhum Pak Tugino BA terhadap berbagai kesalahpahaman dan perselisihan yang pernah terjadi di kalangan pemuda,” ungkap Lasiman.

Dari semangat tersebut kemudian lahir falsafah Tri Susila, yakni Susila Pikir, Susila Perkataan, dan Susila Perbuatan. Ketiganya menjadi landasan bagi anggota TSS dalam menjalani kehidupan, baik di lingkungan perguruan maupun di tengah masyarakat.

Lasiman menjelaskan, Susila Pikir mengajarkan anggota untuk menjaga pikiran dari niat buruk. Sebab, pikiran yang baik akan melahirkan perkataan dan tindakan yang baik pula.

Sementara Susila Perkataan menekankan pentingnya menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain. Bahkan dalam kondisi marah, seorang pesilat dituntut tetap mampu berpikir sebelum berbicara.

Adapun Susila Perbuatan mengajarkan pengendalian diri dalam menggunakan kemampuan bela diri.

“Susila Pikir yaitu menjaga pikiran dari niat buruk. Pikiran baik melahirkan kata dan aksi baik. Susila Perkataan yaitu menjaga lisan agar tidak menyakiti. Bahkan saat marah, tetap berpikir sebelum bicara. Dan Susila Perbuatan yaitu mengendalikan jurus. Kemampuan silat tidak untuk sombong atau merendahkan,” tegasnya.

Menurut Lasiman, pengamalan tiga susila tersebut akan membentuk pemuda yang mampu mengendalikan diri dan menjaga lingkungan.

“Kalau tiga susila itu bisa dilaksanakan, insya Allah pemuda akan lebih terkendali, aman, dan mampu menjaga lingkungannya. Walaupun kita benar, walaupun kita bisa pencak, gerak pencak pun harus tetap sopan,” imbuhnya.

Lebih jauh, Lasiman menyebut pengamalan Tri Susila diarahkan pada kondisi netral atau “nol”. Kondisi tersebut menggambarkan keadaan batin yang tidak dikuasai nafsu maupun pengaruh negatif.

“Kalau kita sudah bisa nol, bisa netral, di situlah sebetulnya ada unsur kekuatan ilahiyah yang luar biasa,” ujarnya.

Ia menegaskan, kondisi netral bukan berarti pasif. Sebaliknya, sikap tersebut menjadi dasar seseorang untuk mampu menempatkan diri secara bijaksana dalam menghadapi berbagai persoalan.

Cetak Pesilat Berprestasi dan Beretika

Memasuki usia 67 tahun, Ketua Umum TSS Indonesia, Eko Satyawan, SP, menegaskan arah pembinaan perguruan ke depan. TSS tidak hanya ingin mencetak pesilat yang memiliki kemampuan teknis dan prestasi olahraga, tetapi juga memiliki etika serta kepribadian yang kuat.

Baca Juga:  Mantan Pejabat Geram, Kelalaian SPPG Meranti, Minta Standar Keamanan MBG Diperketat, Pertanyakan IPAL

“Harapan saya dalam memperingati harlah kali ini adalah menjadikan pesilat yang tahu diri, tahu adab, serta tahu dan menghormati sesepuh atau gurunya. Menjadi pesilat itu bukan hanya tentang kemampuan bersilat sendiri. Tetapi bagaimana menjadi pesilat yang mandiri, tangguh, tanggap, tanggon, dan trengginas berdasarkan koridor Trisusila,” ungkap Eko.

Sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-67, TSS Indonesia juga berencana menggelar Harlah pada September 2026 dengan agenda longmarch.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan antarpesilat sekaligus menanamkan kembali nilai-nilai luhur perguruan.

Di bidang olahraga prestasi, TSS Indonesia juga terus mendorong para atletnya untuk aktif mengikuti berbagai kompetisi. Sejumlah pesilat TSS telah berpartisipasi dalam Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda), berbagai kejuaraan tingkat daerah, hingga pertandingan di luar kota.

Dalam waktu dekat, TSS Indonesia juga akan mengirimkan atlet untuk mengikuti kejuaraan tingkat Provinsi Jawa Tengah yang digelar di GOR Jatidiri.

Terbuka untuk Semua Generasi

Pembinaan TSS Indonesia juga dilakukan secara inklusif. Perguruan membuka ruang bagi berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak usia PAUD hingga orang dewasa dan para sesepuh.

“Mulai dari PAUD sampai dewasa atau sesepuh bisa bersama-sama saling mengisi dan belajar bagaimana cara bersilat yang baik,” kata Eko.

Secara historis, Tri Susila didirikan sebagai respons atas keprihatinan terhadap konflik antarkelompok pemuda dan padepokan silat yang dipicu oleh pikiran, perkataan, serta perbuatan yang tidak susila

Nama Tri Susila sendiri memiliki makna filosofis yang menjadi identitas perguruan, yakni Tiga Rahasia Individu, yang dimaknai sebagai Suasana Silaturahmi Tiga Kunci Hidup Manusia.

Dalam perjalanannya, Guru Besar almarhum Haji Wono Utomo dari Jaya Titis Setia Hati juga mengamanahkan agar Tri Susila bergabung dengan IPSI Kabupaten Purworejo. Langkah tersebut dimaksudkan agar perkembangan pencak silat tetap berada dalam koridor organisasi resmi.

Setelah almarhum Tugino wafat pada 2013, estafet kepemimpinan TSS Indonesia dilanjutkan oleh Eko Satyawan hingga saat ini.

Bagi Lasiman, nilai-nilai yang diajarkan TSS tidak boleh berhenti di padepokan. Justru, ukuran keberhasilan seorang pesilat adalah ketika nilai tersebut mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Semua anggota Tri Susila harus bisa mengamalkan dalam sikap hidup sehari-hari. Kalau tiga susila itu sudah dipegang, insya Allah diri kita aman dan lingkungan kita juga aman,” pungkasnya.

Memasuki usia 67 tahun, TSS Indonesia kembali menegaskan jati dirinya sebagai perguruan pencak silat yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan bela diri dan prestasi, tetapi juga pendidikan karakter.

Melalui ajaran Susila Pikir, Susila Perkataan, dan Susila Perbuatan, TSS Indonesia berupaya membentuk generasi yang mampu berpikir baik, berkata baik, dan berbuat baik. Nilai tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya menjaga persatuan, kerukunan, dan ketenteraman masyarakat Purworejo dan sekitarnya. ( Surjono )

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel tribuncakranews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pegawai Bapas Pati Ikuti Donor Darah dalam Rangka HUT RI ke-81
Kapolres Sragen Pimpin Langsung Pencarian Anak Tenggelam di Waduk Kedungombo
PANGGANG NIGHT CARNIVAL 2026, KETIKA LANGIT MALAM MENJADI PANGGUNG BESAR KREATIVITAS WARGA GUNUNGKIDUL SISI BARAT DAYA
Waketum DPP FERADI WPI Sukindar Hadiri Resepsi Pernikahan Mas Irfan dan Faza di Gedung PPNI Kabupaten Pekalongan
Peringatan HUT ke-3 GMPP dan Tunas Bumi Fest Meriahkan Alun-Alun Wonosobo, Hadirkan Tokoh Nasional
Breaking News: Pemilihan BPD Bendungan Digelar Hari Minggu, Camat Mengaku Tidak Tahu
Kasdam IV/Diponegoro Pimpin Sidang Seleksi Caba PK TNI AD Gelombang III TA. 2026, Kualitas Jadi Prioritas
Ribuan Anggota Padati Anniversary ke-7 Lindu Aji Jolosutro DPC Pati, Kapolres Hingga Bupati Hadir
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 11:28 WIB

Pegawai Bapas Pati Ikuti Donor Darah dalam Rangka HUT RI ke-81

Senin, 10 Agustus 2026 - 08:55 WIB

Kapolres Sragen Pimpin Langsung Pencarian Anak Tenggelam di Waduk Kedungombo

Minggu, 9 Agustus 2026 - 21:13 WIB

PANGGANG NIGHT CARNIVAL 2026, KETIKA LANGIT MALAM MENJADI PANGGUNG BESAR KREATIVITAS WARGA GUNUNGKIDUL SISI BARAT DAYA

Minggu, 9 Agustus 2026 - 20:36 WIB

Waketum DPP FERADI WPI Sukindar Hadiri Resepsi Pernikahan Mas Irfan dan Faza di Gedung PPNI Kabupaten Pekalongan

Minggu, 9 Agustus 2026 - 20:32 WIB

HUT ke-67 TSS Indonesia: Menjaga Persatuan Pemuda melalui Pencak Silat dan Pendidikan Karakter

Berita Terbaru