Gunungkidul, Tribuncakranews.com Program Lumbung Mataraman 2026 Kalurahan Grogol Paliyan memasuki fase penting, dengan total lahan 1 hektare, 6.000 meter persegi diantaranya untuk ketahanan pangan untuk pertanian padi dan sisanya untuk hortikultura juga sarana dan prasarana lainnya
Semangat membangun ketahanan pangan dari tingkat kalurahan terus digenjot. Di Kalurahan Grogol, program BKK Desa Mandiri Pangan Lumbung Mataraman 2026 memasuki tahapan penting. Kamis (20/8/2026), tim monitoring turun langsung memastikan setiap persiapan berjalan sesuai rencana, baik di lapangan maupun dari sisi administrasi. Monitoring tersebut dihadiri unsur DPKP DIY, Paniradya DIY, Bappeda Gunungkidul, Pj Lurah Grogol Umi Surajiah, pamong kalurahan, serta Tim Pelaksana Kegiatan (TPK).
Bukan sekadar melihat pembangunan fisik, monitoring kali ini menjadi semacam cek kesehatan program Lumbung Mataraman. Tim memeriksa kesiapan kegiatan sekaligus kelengkapan administrasi sebagai bekal menuju tahapan berikutnya. Hasilnya cukup menggembirakan. Tidak ada catatan khusus dari tim monitoring. Artinya, pekerjaan rumah terbesar kini bukan mencari kekurangan, melainkan memastikan seluruh persiapan terus dipacu agar ketika verifikasi tahap kedua dilaksanakan pada September 2026, agar Kalurahan Grogol benar-benar dalam kondisi siap. Langkah berikutnya adalah pekerjaan rumah dari tim verifikasi ke Kalurahan Grogol Paliyan adalah segera menyiapkan kelengkapan administrasi untuk verifikasi tahap kedua
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
PJ. Lurah Grogol Umi Surajiah, yang baru dilantik pada 18 Agustus 2026, langsung menempatkan percepatan persiapan verifikasi tahap kedua sebagai salah satu prioritas. Dengan waktu yang relatif singkat, pemerintah kalurahan bersama pamong dan TPK akan segera melakukan langkah-langkah percepatan agar seluruh komponen yang dibutuhkan dalam verifikasi dapat dipastikan siap.
Dari Lahan Kering, Harapan Pangan Mulai Tumbuh
Salah satu bagian paling menarik dari program ini berada di sektor pertanian. Kalurahan Grogol menyiapkan lahan seluas 1 hektare untuk pengembangan tanaman pangan lahan kering, khususnya padi. Dari total lahan tersebut, sekitar 6.000 meter persegi telah menggunakan giyo membran dan kini siap dimanfaatkan, termasuk untuk tahap pembibitan.
Hamparan lahan tersebut bukan hanya soal angka luas lahan. Di baliknya ada harapan agar program Lumbung Mataraman benar-benar menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat dari lahan, menjadi pangan; dari program, menjadi kemandirian.
Carik Grogol Lumenta Hadi, mengatakan persiapan program pangan Lumbung Mataraman sebenarnya telah dilakukan sejak awal Juni 2026. TPK Kalurahan Grogol sejak saat itu telah mulai menyiapkan berbagai kebutuhan kegiatan. Langkah tersebut dilakukan agar pelaksanaan program tidak berjalan tergesa-gesa menjelang tahapan verifikasi. “Persiapannya sudah disiapkan TPK Kalurahan Grogol sejak awal Juni 2026,” ujar Lumenta Hadi.
September Menjadi Ujian Berikutnya
Monitoring pada Kamis (20/08/2026) ini menjadi titik penting sebelum memasuki tahapan verifikasi kedua pada September mendatang. Jika tahap persiapan adalah menanam pondasi, maka verifikasi tahap kedua akan menjadi momentum untuk melihat seberapa jauh pondasi tersebut telah berdiri kokoh.
Dengan lahan yang telah siap, administrasi yang terus dibenahi, serta tidak adanya catatan khusus dari tim monitoring, Kalurahan Grogol memiliki modal awal yang cukup positif. Kini tantangannya adalah menjaga ritme. Sebab, Lumbung Mataraman bukan semata-mata tentang menyelesaikan sebuah kegiatan atau memenuhi target administrasi. Lebih jauh, program ini membawa gagasan besar: bagaimana kalurahan mampu mengelola potensi lahannya untuk memperkuat ketahanan pangan dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
Dari lahan kering yang mulai disiapkan, benih akan ditumbuhkan. Dari benih itulah kelak diharapkan tumbuh pangan, ekonomi, dan kemandirian warga. Dan di Grogol, cerita itu kini sedang dimulai. September nanti, hasil dari seluruh persiapan akan kembali diuji. (Red / Pur )














