SEMARANG | TRIBUNCAKRANEWS.COM – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang menggelar Musyawarah ke-13 pada Selasa (3/11/2026). Agenda tersebut menjadi momentum penting dalam menentukan kepemimpinan baru PMI Kota Semarang melalui proses pemilihan sejumlah kandidat untuk mengemban amanah organisasi dan memperkuat pelayanan sosial serta kemanusiaan bagi masyarakat.
Dalam musyawarah tersebut, Prof. Dr. FX. Sugiyanto ditetapkan sebagai Ketua PMI Kota Semarang yang baru. Kepemimpinan baru ini diharapkan mampu membawa PMI semakin berperan aktif dalam pelayanan kemanusiaan, penanganan bencana, serta pemberdayaan masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Dr. dr. Mochamad Abdul Hakam, Sp.PD, FINASIM, menyampaikan bahwa PMI memiliki peran strategis, baik melalui pelayanan di dalam gedung maupun kegiatan di luar gedung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, pelayanan di dalam gedung berkaitan dengan operasional UPTD, sedangkan kegiatan di luar gedung mencakup pemberdayaan masyarakat sekaligus mitigasi terhadap berbagai potensi bencana.
“Jika hal tersebut dapat dijalankan dengan baik, menurut saya, akan memberikan nilai positif bagi Pemerintah Kota Semarang,” ungkapnya.
Ia menilai, dari sisi anggaran maupun sumber daya manusia (SDM), PMI memiliki kapasitas yang cukup bisa diandalkan untuk membantu Pemerintah Kota Semarang dalam menghadapi berbagai situasi kebencanaan.
Terlebih, layanan PMI melalui UPTD selama ini sangat membantu berbagai pihak, khususnya rumah sakit. Ia menyebut jumlah rumah sakit di Kota Semarang mencapai sekitar 40 unit, dengan kurang lebih 40 persen pasien yang dirawat berasal dari luar daerah.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa PMI Kota Semarang memiliki potensi besar dalam memberikan pelayanan kemanusiaan, tidak hanya bagi warga Kota Semarang, tetapi juga masyarakat dari berbagai wilayah di Jawa Tengah.
Lebih lanjut, Abdul Hakam menekankan pentingnya memperkuat mitigasi bencana di Kota Semarang. Ancaman banjir, tanah longsor, hingga kebakaran harus diantisipasi melalui langkah pencegahan dan sinergi yang lebih kuat antara PMI, pemerintah, serta berbagai pihak terkait.
Selain penanganan kebencanaan, ia juga menyoroti pentingnya aspek kesehatan dan keselamatan atlet dalam setiap kegiatan olahraga.
Menurutnya, pemeriksaan kesehatan atau medical check-up sebelum pertandingan perlu menjadi perhatian. Terutama bagi atlet yang memiliki riwayat penyakit tertentu, sehingga kondisi kesehatannya dapat dipantau secara optimal.
Perlindungan asuransi bagi atlet juga dinilai penting, termasuk perlunya kemudahan dalam proses penjaminan apabila hasil pemeriksaan tenaga medis menunjukkan adanya kondisi yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan.
Ia mencontohkan, ketika atlet mengalami benturan kepala atau terjatuh dalam posisi berisiko, pemeriksaan harus dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan tidak terjadi cedera serius.
Jangan sampai penanganan hanya berfokus pada luka yang terlihat, seperti patah tulang pada jari, sementara potensi cedera kepala justru terabaikan.
Faktor cuaca panas juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi konsentrasi dan kondisi fisik atlet, sekaligus meningkatkan risiko insiden selama pertandingan.
Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemeriksaan kesehatan, kesiapan tenaga medis, perlindungan asuransi, hingga penyesuaian pelaksanaan pertandingan dengan kondisi cuaca.
Sementara itu, Ketua PMI Kota Semarang terpilih, Prof. Dr. FX. Sugiyanto, menyampaikan bahwa dirinya akan terlebih dahulu mempelajari kondisi organisasi, kebijakan, serta berbagai program kerja PMI sebelum mengambil langkah lebih jauh.
Ia mengaku masih membutuhkan waktu untuk memahami secara langsung dinamika organisasi dan pelaksanaan tugas kemanusiaan di lapangan.
“Saya akan belajar terlebih dahulu karena saya baru menjadi pengurus PMI Provinsi. Saya masih baru terjun langsung di lapangan. Dari semua hal tersebut, saya ingin belajar dan memahami semangat kebijakan yang ada,” ujarnya kepada awak media.
Menurutnya, bergabung dan memimpin PMI merupakan tahapan baru dalam perjalanan pengabdiannya setelah lebih dari 40 tahun berkecimpung di dunia pendidikan.
Ia mengakui tanggung jawab sebagai Ketua PMI tentu berbeda dengan pengalaman sebelumnya. Oleh karena itu, dirinya memilih untuk memahami terlebih dahulu kondisi organisasi sebelum memberikan banyak pernyataan maupun menetapkan arah kebijakan.
“Saya belum bisa memberikan banyak komentar. Mohon maaf, karena saya juga masih perlu mempelajari berbagai hal lebih mendalam. Apalagi nantinya menjadi Ketua PMI, tentu saya akan memiliki tanggung jawab yang berbeda,” tegasnya.
Terpilihnya kepemimpinan baru PMI Kota Semarang diharapkan menjadi momentum penguatan organisasi, khususnya dalam meningkatkan pelayanan donor darah, kesiapsiagaan bencana, pemberdayaan masyarakat, serta pelayanan kesehatan dan kemanusiaan.
Sinergi antara PMI, Pemerintah Kota Semarang, fasilitas kesehatan, dan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci agar kehadiran PMI benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Red/Chaca














