Tribuncakranews.com Senja belum benar-benar hilang ketika ribuan orang mulai memenuhi kawasan Lembah Desa Pulutan (LDP), Ahad (5/7/2026). Di antara hijaunya perbukitan Gunungkidul, suara gamelan, lantunan shalawat, dan syair-syair religius perlahan menggantikan riuh percakapan para pengunjung yang datang dari berbagai penjuru.
Tidak ada pesta kembang api. Tidak pula gegap gempita panggung hiburan modern. Tahun Baru Islam 1448 Hijriah di sudut selatan Daerah Istimewa Yogyakarta ini justru disambut dengan cara yang sederhana, tetapi meninggalkan kesan mendalam: berkumpul, bershalawat, berseni, berbagi, dan bersama-sama melakukan refleksi kehidupan.
Tradisi itu kembali dihidupkan melalui Ngaji Seni #8, sebuah ruang dakwah kultural yang digagas Jamaah Seni Islami (JSI) Kamilasyada. Selama lebih dari dua dekade, kelompok seni yang lahir di Kalurahan Pulutan pada 2001 tersebut konsisten menjadikan seni sebagai bahasa dakwah yang membumi dan mudah diterima lintas generasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di panggung utama Lembah Desa Pulutan, ribuan pengunjung larut dalam alunan lagu-lagu religi. Anak-anak duduk berdampingan dengan orang tua, para remaja menikmati setiap penampilan, sementara kaum lanjut usia tampak khusyuk mengikuti setiap pesan yang disampaikan dari atas panggung.
Di bawah arahan Jayadi, S.Pd.I., M.S.I., yang akrab disapa Kang Jay, pertunjukan berjalan tanpa sekat antara seniman dan jamaah. Lagu-lagu seperti Lancaran Hasbunallah, Dipikir-dipikir, hingga Samara bukan sekadar hiburan, melainkan media menyampaikan nilai-nilai keislaman dengan pendekatan yang lembut dan penuh makna.
Setiap syair yang dinyanyikan mengajak penonton merenungkan perjalanan hidup. Setiap jeda lagu diisi dengan pesan-pesan spiritual yang ringan, dekat dengan kehidupan sehari-hari, namun menyentuh ruang batin para pendengarnya.
Momen paling hening hadir ketika Kang Jay membacakan geguritan Jawa berjudul “Didis”.
Dalam budaya Jawa, didis berarti mencari kutu rambut. Namun di tangan Kang Jay, istilah sederhana itu menjelma menjadi metafora tentang keberanian manusia membersihkan dirinya dari kesalahan, dosa, dan berbagai kekhilafan.
«”Didis itu penting agar kita segera bertaubat bila banyak dosa, khilaf, dan maksiat yang telah dikerjakan. Tahun baru harus menjadi momentum untuk menata kehidupan agar menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya di hadapan ribuan jamaah.»
Kalimat itu disambut keheningan. Beberapa pengunjung tampak menganggukkan kepala. Sebagian lainnya merekam momen tersebut dengan telepon genggam, sementara yang lain memilih menikmati setiap bait puisi dalam diam.
Di tengah derasnya arus hiburan digital yang sering kali mengedepankan sensasi, Ngaji Seni menghadirkan alternatif yang berbeda. Seni tidak kehilangan keindahannya, sementara dakwah tetap hadir tanpa terasa menggurui.
Namun kekuatan acara ini tidak berhenti pada panggung pertunjukan.
JSI Kamilasyada bersama Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pulutan, pengelola Lembah Desa Pulutan, dan berbagai elemen masyarakat juga menggelar pentas amal sebagai wujud nyata kepedulian sosial. Bantuan berupa Sedekah Sayur Sempulur dibagikan kepada masyarakat, disertai pembagian buku Iqro’ bagi anak-anak dan keluarga yang membutuhkan.
Bagi penyelenggara, dakwah tidak cukup hanya disampaikan melalui kata-kata. Nilai-nilai Islam harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang menghadirkan manfaat bagi sesama.
Kolaborasi antara komunitas seni, organisasi keagamaan, pengelola destinasi wisata, dan masyarakat itu menjadi contoh bagaimana ruang publik dapat difungsikan bukan hanya sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai pusat edukasi, pemberdayaan, dan penguatan karakter.
Resonansi kegiatan ini bahkan melampaui batas wilayah Gunungkidul.
Jumono, warga Semanu, mengaku sengaja datang karena ingin menikmati hiburan yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga memberikan ketenangan batin.
Kamto dari Playen menilai Lembah Desa Pulutan kini memiliki identitas baru sebagai destinasi wisata keluarga yang memadukan panorama alam dengan pendidikan spiritual.
Sementara Dewi, pengunjung asal Batam, mengaku kagum melihat masyarakat Gunungkidul mampu merawat tradisi lokal sekaligus menghadirkan dakwah yang santun melalui pendekatan seni dan budaya.
Fenomena Ngaji Seni #8 memperlihatkan bahwa seni dan agama bukanlah dua kutub yang saling bertentangan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan, saling menguatkan, dan menjadi sarana membangun peradaban yang lebih humanis.
Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, masyarakat masih membutuhkan ruang-ruang yang menghadirkan ketenangan, mempererat silaturahmi, sekaligus mengingatkan bahwa perjalanan hidup bukan hanya tentang mengejar dunia, tetapi juga menata hati.
Dari sebuah lembah di Gunungkidul, pesan itu bergema dengan sederhana namun kuat: ketika dakwah dirawat melalui seni, ia tidak hanya terdengar, tetapi juga terasa. Dan ketika budaya dipertemukan dengan nilai-nilai keislaman, lahirlah sebuah tontonan yang perlahan berubah menjadi tuntunan bagi kehidupan.













