Gunungkidul, Tribuncakranews.com Semangat kebersamaan dan gotong royong kembali menjadi denyut kehidupan masyarakat Kalurahan Karangmojo. Di tengah keterbatasan anggaran yang cukup tajam, Pemerintah Kalurahan Karangmojo tetap sukses menggelar puncak peringatan Hari Jadi Kalurahan Karangmojo ke-78 yang dirangkai dengan Gebyar Bersih Desa, Ahad (26/7/2026), di Kompleks Kantor Kalurahan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul.
Perayaan tahun ini bukan sekadar seremoni tahunan. Selama kurang lebih 20 hari, sejak awal Juli hingga awal Agustus 2026, berbagai potensi seni dan budaya lokal ditampilkan dalam rangkaian kegiatan yang melibatkan masyarakat dari seluruh padukuhan. Beragam pertunjukan budaya, tradisi, hingga aktivitas sosial menjadi bukti bahwa semangat melestarikan warisan leluhur tetap hidup di tengah masyarakat. Namun, di balik kemeriahan tersebut, tersimpan tantangan besar yang dihadapi pemerintah kalurahan.
Lurah Karangmojo, Agus Budiono, mengungkapkan bahwa pelaksanaan Hari Jadi ke-78 dan Bersih Desa tahun ini berlangsung dalam kondisi keterbatasan anggaran yang cukup berat. Ia menjelaskan bahwa Dana Desa yang diterima Kalurahan Karangmojo mengalami penurunan sangat signifikan “Pada tahun sebelumnya, Dana Desa yang diterima mencapai sekitar Rp1,4 miliar, sedangkan pada tahun 2026 hanya sekitar Rp370 juta,“ jelasnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi tersebut membuat Pemerintah Kalurahan bersama Bamuskal (Badan Permusyawaratan Kalurahan) harus mengambil keputusan yang tidak mudah. Demi menjaga keberlangsungan tradisi Bersih Desa dan peringatan hari jadi yang telah menjadi identitas masyarakat, disepakati adanya iuran dari warga sebagai bentuk partisipasi bersama. Meski demikian, Agus Budiono menegaskan bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh mematahkan semangat membangun Karangmojo. “Kami bersama Bamuskal akan terus berupaya membawa masyarakat Karangmojo agar tetap maju. Baik melalui pembangunan fisik maupun pembangunan nonfisik, kami ingin seluruh masyarakat tetap bergerak ke arah yang positif,“ tegasnya.
Puncak acara turut dihadiri Panewu Karangmojo beserta jajaran Kapanewon, perwakilan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, serta perwakilan dari Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, yang menunjukkan dukungan terhadap pelestarian budaya sekaligus penguatan nilai-nilai kebersamaan di tingkat kalurahan. Salah satu agenda yang paling menyita perhatian masyarakat adalah lomba penilaian 16 gunungan yang dipersembahkan oleh seluruh padukuhan di Kalurahan Karangmojo. Gunungan-gunungan tersebut disusun dari hasil bumi, aneka pangan lokal, hingga produk unggulan masyarakat sebagai simbol rasa syukur atas berkah dan rezeki yang diterima.
Kehadiran ribuan warga yang memadati lokasi acara menciptakan suasana penuh semangat. Tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun berpadu dengan antusiasme masyarakat, menjadikan Gebyar Bersih Desa bukan sekadar tontonan, tetapi juga momentum memperkuat persaudaraan dan identitas budaya lokal.
Di tengah berbagai tantangan, Hari Jadi ke-78 Kalurahan Karangmojo menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masih menjadi kekuatan utama masyarakat Gunungkidul. Ketika anggaran berkurang, kebersamaan justru tumbuh semakin kuat. Tradisi tetap lestari, budaya terus hidup, dan optimisme untuk membangun Karangmojo tidak pernah surut. Perayaan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan juga oleh kekompakan masyarakat yang terus menjaga warisan budaya dan nilai-nilai kebersamaan dari generasi ke generasi. (Red)












