Tradisi Hajatan Bulan Besar dan Tantangan Ekonomi Guru Menjelang Tahun Ajaran Baru

- Kontributor

Senin, 15 Juni 2026 - 07:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Purworejo, Tribuncakranews.com – Memasuki bulan Dzulhijjah atau yang dalam tradisi masyarakat Jawa dikenal sebagai Bulan Besar, berbagai hajatan keluarga mulai marak digelar. Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun ini menjadikan Bulan Besar sebagai waktu yang dianggap baik untuk menyelenggarakan acara penting, terutama khitanan dan pernikahan, sebelum memasuki bulan Suro atau Muharam yang oleh sebagian besar masyarakat Jawa disakralkan.

Dalam tradisi Jawa, bulan Suro diyakini sebagai waktu untuk lebih banyak melakukan introspeksi dan kegiatan spiritual. Karena itu, banyak keluarga memilih melaksanakan hajatan pada Bulan Besar sebelum memasuki bulan tersebut.

Namun, di balik semaraknya musim hajatan, terdapat cerita tersendiri dari kalangan guru, khususnya guru PAUD, TK, dan SD. Saat dikonfirmasi pada Senin (15/6/2026), beberapa guru mengaku harus menghadapi berbagai kebutuhan ekonomi yang datang hampir bersamaan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sambil tersenyum dan sesekali tertawa kecil, mereka menceritakan bahwa agenda memberikan sumbangan untuk berbagai hajatan seolah tidak pernah berhenti.

“Kalau musim seperti sekarang ini hampir selalu ada undangan. Entah khitanan, pernikahan, belum lagi kebutuhan sosial lainnya. Bahkan dalam beberapa minggu terakhir saja ada tiga orang tua siswa yang melahirkan dan belum sempat kami beri sumbangan,” ujar salah seorang guru yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Menurut mereka, tradisi gotong royong dan saling membantu dalam masyarakat memang menjadi nilai positif yang perlu dijaga. Namun di sisi lain, banyaknya agenda sosial sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi para guru dengan penghasilan terbatas.

Kondisi tersebut semakin terasa karena Juni 2026 juga bertepatan dengan akhir semester dan persiapan memasuki tahun ajaran baru. Banyak orang tua, termasuk para guru, harus mempersiapkan biaya pendidikan anak untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Baca Juga:  Dugaan Tender Siluman di Purworejo Masuk Ranah Kepolisian, Polres Siapkan Langkah Penyelidikan

Mulai dari siswa TK yang akan masuk SD/MI, siswa SD menuju SMP/MTs, hingga lulusan SMP yang melanjutkan ke SMA/SMK. Berbagai kebutuhan seperti biaya daftar ulang, pembelian buku pelajaran, tas, sepatu, seragam baru, hingga kebutuhan pendukung lainnya memerlukan anggaran yang tidak sedikit.

Selain itu, sejumlah sekolah juga menggelar kegiatan perpisahan atau akhirussanah yang turut membutuhkan biaya tambahan bagi orang tua siswa.

“Sebagai orang tua tentu kami juga memikirkan biaya sekolah anak. Kebutuhannya banyak, mulai dari buku, seragam, tas, sepatu, hingga keperluan lainnya. Sementara kebutuhan sosial di masyarakat juga terus berjalan,” ungkap guru lainnya.

Para guru juga menyoroti kondisi kesejahteraan tenaga pendidik non-ASN, khususnya guru TK di wilayah Kabupaten Purworejo. Menurut pengakuan beberapa guru, honor yang mereka terima setiap bulan masih relatif rendah.

“Kalau guru TK non-ASN, ada yang menerima honor sekitar Rp250 ribu sampai Rp300 ribu per bulan,” ujar salah seorang guru sambil tersenyum.

Mereka membandingkan kondisi tersebut dengan guru ASN maupun PPPK yang telah menerima gaji sesuai ketentuan pemerintah. Meski demikian, para guru mengaku tetap menjalankan tugas mendidik anak-anak dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab.

Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah kuatnya tradisi sosial masyarakat Jawa, para guru dan keluarga juga harus menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang datang secara bersamaan, terutama menjelang tahun ajaran baru dan di tengah meningkatnya aktivitas hajatan pada Bulan Besar. Dukungan terhadap kesejahteraan tenaga pendidik, khususnya guru non-ASN, dinilai menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian agar mereka dapat menjalankan tugas pendidikan dengan lebih optimal. ( Surjono )

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel tribuncakranews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dindikpora Banjarnegara Terbitkan Edaran Pakta Integritas Revitalisasi Satuan Pendidikan 2026
HEBOH! DANA PROGRAM 1000 SARJANA RP 27 MILIAR PER SEMESTER, DOSEN UNIVERSITAS SAPTA MANDIRI BALANGAN 5 BULAN TAK DIGAJI, RUMAH MEWAH & MOBIL LISTRIK MUNCUL DI SEBELAH KAMPUS
Lapas Pati Gelar Senam Hipertensi, Jaga Kebugaran WBP dan Kendalikan Tekanan Darah
Pangdam IV/Diponegoro Tutup Turnamen Panjat Tebing 2026 di Yogyakarta
Detasemen Intelijen Kodam IV/Diponegoro Ucapkan Selamat Kepada Letkol Arh Agus Fithriyanto, S.A.P. Mengikuti Dikjab Golongan V
Gagal Rampas Tas dan Sempat Dihakimi Warga, Lima Pelaku Jambret Diamankan Polres Semarang
Pangdam IV/Diponegoro Tutup Open Tournament Panjat Tebing Piala Panglima TNI 2026 di Yogyakarta
Pameran Lalu lintas Semarakkan HUT Polantas Bhayangkara ke-71, Sat Lantas Polres Semarang Hadirkan Hiburan dan Edukasi Lalu Lintas
Berita ini 38 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 18:22 WIB

Dindikpora Banjarnegara Terbitkan Edaran Pakta Integritas Revitalisasi Satuan Pendidikan 2026

Sabtu, 19 September 2026 - 17:46 WIB

HEBOH! DANA PROGRAM 1000 SARJANA RP 27 MILIAR PER SEMESTER, DOSEN UNIVERSITAS SAPTA MANDIRI BALANGAN 5 BULAN TAK DIGAJI, RUMAH MEWAH & MOBIL LISTRIK MUNCUL DI SEBELAH KAMPUS

Sabtu, 19 September 2026 - 17:15 WIB

Lapas Pati Gelar Senam Hipertensi, Jaga Kebugaran WBP dan Kendalikan Tekanan Darah

Sabtu, 19 September 2026 - 16:42 WIB

Pangdam IV/Diponegoro Tutup Turnamen Panjat Tebing 2026 di Yogyakarta

Sabtu, 19 September 2026 - 16:36 WIB

Detasemen Intelijen Kodam IV/Diponegoro Ucapkan Selamat Kepada Letkol Arh Agus Fithriyanto, S.A.P. Mengikuti Dikjab Golongan V

Berita Terbaru