Banyumas – Tribuncakranews.com. 12/2/2026. Enam bulan pasca peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-80, polemik hadiah utama kegiatan Jalan Sehat “Semangat Merah Putih” yang digelar di Menara Teratai pada 24 Agustus 2025 masih menyisakan tanda tanya besar.
Yulia Nurul, warga Cilacap yang diumumkan sebagai pemenang satu unit Honda Brio, hingga kini belum menerima kendaraan yang dijanjikan panitia.
Kasus ini memasuki babak baru setelah tim media menemukan adanya kejanggalan dalam dokumen perjanjian kerja sama antara panitia dan pihak event organizer (EO).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dugaan Aliran Dana Ratusan Juta Rupiah
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kegiatan tersebut disebut-sebut meraih pemasukan signifikan. Tercatat sekitar 180.000 tiket terjual dengan harga Rp2.500 per lembar. Jika dihitung, total bruto mencapai Rp450 juta. Setelah dikurangi estimasi biaya, beredar angka neto sekitar Rp380 juta.
Selain itu, terdapat penyewaan 50 tenda bagi pelaku UMKM dengan tarif Rp1 juta per unit, yang berpotensi menambah sekitar Rp50 juta.
Dengan demikian, total pemasukan diperkirakan menyentuh kisaran Rp420–500 juta.
Jumlah tersebut dinilai lebih dari cukup untuk pengadaan satu unit Honda Brio tipe standar. Namun hingga kini, hadiah utama belum juga diterima pemenang.
Beberapa perangkat desa yang enggan disebut namanya mengaku mendapat instruksi untuk menjual tiket sebanyak mungkin.
“Saya agak lupa pastinya jumlah bonggol yang terjual, yang jelas lebih dari sepuluh bonggol. Penjualannya dari jauh-jauh hari dan saya sempat dua kali menambah,” ujar salah satu narasumber.
Narasumber lain berinisial GT menyebut antusiasme masyarakat sangat tinggi karena harga tiket murah dengan iming-iming hadiah mobil.
“Puluhan bonggol juga terjual melalui saya. Sangat laris karena hadiah utamanya mobil dengan harga tiket Rp2.500. Tapi kalau sekarang jadi hadiah bohongan, saya tidak tahu. Miris saja, ini kelas Pemda. Apa pandangan masyarakat nanti? Apalagi peserta banyak dari luar Banyumas,” ujarnya.
Temuan Dokumen: Hadiah Seharusnya Diserahkan Sebelum Acara
Tim media memperoleh salinan Surat Perjanjian Kerja Sama Nomor: 400.14.1.1/90/PAN.HUT.RI/2025 yang ditandatangani pada 11 Agustus 2025 oleh:
Najmudin (Direktur PT Boss Bintang Raya/EO)
Dr. Agus Nur Hadie (Sekda Banyumas sekaligus Ketua Panitia)
Dalam Pasal 3 poin 2 huruf g disebutkan:
“Pihak Kesatu (EO) menyerahkan hadiah kegiatan kepada Pihak Kedua (Sekda Banyumas) dengan segala bentuk legalitas kepemilikannya paling lambat tanggal 16 Agustus 2025.”
Artinya, secara administratif dan fisik, hadiah mobil seharusnya sudah berada di tangan panitia delapan hari sebelum acara digelar.
Namun fakta di lapangan menunjukkan mobil tersebut belum diterima pemenang hingga saat ini. Publik pun mempertanyakan:
Mobil yang ditampilkan saat pengundian itu sebenarnya milik siapa?
Saling Tuding Antar Pihak
Situasi semakin memanas setelah muncul pernyataan berbeda dari para pihak.
Najmudin (EO) mengaku hanya “dipinjam bendera” dan mempertanyakan sejumlah komponen laporan keuangan, termasuk biaya cetak tiket yang disebut mencapai Rp70 juta.
Agus Nur Hadie (Sekda/Ketua Panitia) menyatakan uang hasil penjualan tiket diduga dibawa oleh oknum karyawan EO.
Seorang tokoh masyarakat Banyumas mempertanyakan konsistensi panitia:
“Jika dalam perjanjian disebutkan hadiah harus diserahkan tanggal 16 Agustus, mengapa acara tetap dilaksanakan 24 Agustus tanpa memastikan fisik hadiah dan legalitasnya? Mengapa sekarang justru saling tuding?”
Sorotan Integritas dan Kredibilitas
Kasus ini bukan sekadar persoalan satu unit mobil, melainkan menyangkut transparansi, akuntabilitas, serta kredibilitas penyelenggaraan kegiatan publik yang membawa nama Pemerintah Kabupaten Banyumas.
Di satu sisi, panitia dinilai mampu menggerakkan aparat desa dan kelurahan untuk menjual tiket secara masif. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan besar terkait pengawasan dan pertanggungjawaban hadiah utama.
Hingga berita ini diturunkan, Yulia Nurul masih menunggu kepastian atas haknya sebagai pemenang. Potongan tiket yang ia simpan kini menjadi simbol janji yang belum ditepati.
Publik Banyumas berharap adanya klarifikasi resmi dan penyelesaian transparan agar polemik ini tidak semakin mencederai semangat peringatan kemerdekaan. **(IWN)













