Semarang, Tribuncakranews.com — Rabu, 28/1/2026. Program Studi S2 Magister Teknik Sipil Universitas Semarang (USM) menggelar Seminar Nasional bertema “Identifikasi Potensi Bencana Bidang Teknik Sipil”, sebagai upaya memperkuat peran keilmuan teknik sipil dalam mitigasi dan penanggulangan bencana di Indonesia.
Seminar yang diikuti sekitar 700 peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, praktisi, dan pemangku kepentingan ini menjadi forum strategis dalam meningkatkan kapasitas analisis risiko kebencanaan, sekaligus mendorong lahirnya rekomendasi kebijakan berbasis sains dan teknologi.
Acara dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Semarang, Dr. Supari, S.T., M.T., yang menegaskan pentingnya kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan kebencanaan nasional melalui riset dan inovasi berkelanjutan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam paparannya, para narasumber menekankan bahwa hampir seluruh risiko bencana beririsan langsung dengan infrastruktur.
Teknik sipil, sebagai disiplin yang mencakup bidang struktur, geoteknik, hidrolika, transportasi, dan lingkungan, memiliki peran krusial dalam menciptakan sistem pembangunan yang aman, tangguh, dan adaptif terhadap perubahan iklim.
Narasumber pertama, Dr. Ir. Yustian Heri Suprapto, S.T., M.T., M.Sc. dari PT Keller Ground Indonesia, membahas Teknik Perbaikan Tanah sebagai Upaya Mitigasi Potensi Bencana. Ia menjelaskan tantangan geoteknik di Indonesia, di mana sebagian besar infrastruktur berdiri di atas tanah dengan karakteristik yang berbeda-beda.
Ia memaparkan pemetaan sebaran tanah lunak dan indeks risiko bencana (IRB) sebagai instrumen penting dalam perencanaan pembangunan.
Menurutnya, penurunan indeks risiko pada 2024 menunjukkan efektivitas upaya peningkatan daya dukung tanah, yang mengacu pada SNI 8460:2017 tentang metode perbaikan tanah.
Narasumber kedua, Dr. Edy Susilo, S.T., M.T., Investor Pipa Resapan Horisontal USM, menyoroti meningkatnya bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim.
Data menunjukkan tren banjir dan longsor di Indonesia terus meningkat dalam periode 2010–2025.
Ia mengungkapkan bahwa curah hujan ekstrem mencapai 261 mm/hari, sementara daya serap tanah hanya sekitar 10 persen, sehingga limpasan air hujan berpotensi besar menimbulkan banjir. Perubahan tata guna lahan, termasuk peningkatan kebun sawit hingga tiga kali lipat sejak 1990, turut memperparah kondisi tersebut.
Karena itu, ia menekankan pentingnya strategi Zero AQ Policy dan perencanaan pengelolaan air hujan sesuai Permen PUPR No. 11/PRT/M/2014.
Narasumber ketiga, Prosida Rhapdody dari GeoBrugg Indonesia, memaparkan solusi proteksi geohazard menggunakan sistem jaring kawat baja berkekuatan tinggi untuk mitigasi longsor dan aliran puing.
Teknologi ini telah diterapkan di sejumlah wilayah rawan longsor, termasuk kawasan Selo, Boyolali–Magelang, dengan pendekatan ramah lingkungan dan opsi penghijauan kembali.
Narasumber keempat, Bergas Catursari Penanggungan, S.Sos., M.Si, Kepala BPBD Jawa Tengah, menegaskan bahwa risiko bencana sering kali bermula dari kerusakan infrastruktur.
Ia mencontohkan kejadian di Cilacap dan Banjarnegara, serta mengutip arahan Presiden Prabowo tentang pentingnya membangun masyarakat yang kuat dan tangguh terhadap bencana.
Menurutnya, mitigasi tidak boleh menakut-nakuti masyarakat, melainkan mendorong inovasi berbasis potensi lokal.
Pengendalian air menjadi solusi jangka panjang menghadapi cuaca ekstrem yang tidak dapat diprediksi, sementara edukasi masyarakat menjadi kunci penanganan jangka pendek.
Narasumber kelima, Dr. Adolf Situmorang, S.T., M.T., selaku Kaprodi S2 Magister Teknik Sipil USM, menjelaskan bahwa seminar ini diselenggarakan karena kebencanaan telah menjadi isu nasional.
Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun menangani banjir dan longsor di Kota Semarang dan sekitarnya, ia menegaskan bahwa setiap daerah membutuhkan solusi yang spesifik sesuai karakter wilayah masing-masing.
Antusiasme peserta terlihat tinggi, terutama pada sesi diskusi dan tanya jawab yang dipandu langsung oleh Dr. Adolf Situmorang.
Berbagai pertanyaan dan pandangan disampaikan terkait tantangan serta peluang penerapan konsep blue-green infrastructure di berbagai wilayah Indonesia.
Seminar Nasional S2 Magister Teknik Sipil USM ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan pemerintah dalam mempercepat adopsi teknologi serta konsep pembangunan berkelanjutan.
Diharapkan, forum ilmiah ini mampu berkontribusi nyata dalam membangun kota dan wilayah yang lebih tangguh menghadapi bencana di masa depan. (*)
Penulis : Elman Sirait
Editor : Redaksi
Sumber Berita: AWPI JATENG













